Demokrasi Masyarakat Madani

Tag

, , , , , , ,

(Kolom Wacana Radar Banten 18 September 2018 h. 1 dan 7) oleh Sulaiman Djaya*

Demokrasi: terletak pada pemerintah (rezim) atau masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dalam salah-satu ceramahnya di California University pada tahun 1963 dengan mengutip tulisannya Alexis De Tocqueville, Raymond Aron mengingatkan kita bahwa demokrasi tak semata didefinisikan sebagai bentuk pemerintahan atau watak sebuah rezim politik, tetapi lebih pada suatu keadaan masyarakat.

Jauh sebelumnya, hal senada telah ditekankan Abraham Lincoln yang memperjuangkan esensi republikanisme dari demokrasi ketika ia mendefinisikan demokrasi sebagai pemerintahan dan kiprah politik dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, yang dengan definisi tersebut Lincoln lebih menekankan peran aktif masyarakat dan warga negara untuk mengawasi pemerintah dari kebijakan-kebijakan yang membahayakan negara yang akan berimbas pada rakyat dan warga negara. Dalam hal ini, ketercerahan dan partisipasi masyarakat dan warga negara merupakan prasyarat utama bagi sehatnya demokrasi.

Jika demikian, secara substansial demokrasi meniscayakan kesiapan dan keberdayaan masyarakat secara politis dan kultural sebagai partisipan utama dan sebagai penentu utama baik-buruknya penyelenggaraan demokrasi itu sendiri: apakah sebuah negara atau pemerintahan yang mengklaim demokratis berjalan dengan baik ataukah sebaliknya, mengjklaim diri sebagai demokratis namun pada kenyataannya dikuasai oligarkhi.

Apa yang dinyatakan dan ditegaskan Abraham Lincoln dan Alexis Tocqueville, dan kemudian disuarakan ulang oleh Raymond Aron tentang pentingnya demokrasi dipahami sebagai suatu ‘keadaan masyarakat’ itu sesungguhnya dalam rangka menjawab para filsuf Yunani seperti Sokrates dan Plato yang sangsi terhadap demokrasi bagi masyarakat Yunani dan lebih mengidealkan ‘filsuf raja’ sebagai seorang kepala Negara yang layak memimpin.

Kesangsian Sokrates dan Plato itu memang haruslah diakui bahwa acapkali dalam sebuah masyarakat yang belum “tercerahkan” dan “terdewasakan” secara rasional dan politis, rentan sekali dimanipulasi secara politik dan secara sosial oleh oligarkhi yang mengatasnamakan demokrasi. Dan hal itu disadari oleh Alexis Tocqueville, demikian papar Raymond Aron.

Rentannya manipulasi, seperti praktik politik uang atau money politics, misalnya, akan terjadi pada masyarakat yang belum baik dari segi pendidikan dan tak memiliki akses informasi yang layak. Masyarakat yang tercerahkan hanya dimungkinkan oleh baiknya daya baca dan memiliki kapasitas literer.

Namun ironisnya, di jaman ini, media-media yang semestinya memberikan pencerahan dan pendidikan politik atau civic education, malah ikut juga terjerembab menjadi pion-pion kepentingan oligarkhi yang acapkali manipulatif. Persis di sinilah pentingnya gerakan masyarakat madani melalui kerja intelektual dan kebudayaan generasi muda.

Haruslah diakui bahwa siapa pun bisa menjadi tiran sebagaimana tirani dalam arti lain juga acapkali dimainkan oleh kekuatan uang (oligarkhi) para korporat dan konglomerasi. Pada titik inilah diperlukan masyarakat yang independen dan mawas atau gerakan masyarakat madani (civil society) yang berfungsi sebagai pengawasan sukarela atau institusi-institusi resmi yang bertugas ‘memberantas’ korupsi dan praktik-praktik penyimpangan politik. Dan civil society hanya dimungkinkan dan lahir dari masyarakat atau sekumpulan warga Negara yang tercerahkan.

Upaya pencerahan masyarakat dan pendidikan politik atau pun civic education ini dapat dilakukan oleh perorangan atau kelompok yang tergerak untuk memajukan kehidupan sosial-politik demi menghindari manipulasi oleh partai-partai politik, misalnya. Karena, seperti menjadi kenyataan saat ini, sejumlah partai tetap mencalonkan koruptor dalam kontestasi politik atau suksesi, dan realitas pahitnya adalah Bawaslu tidak mempersoalkan para koruptor yang mencalonkan diri itu.

Demokrasi akan hidup dan berjalan baik dalam masyarakat yang terbuka, demikian bila meminjam filsafat politiknya Karl Raymund Popper, sebuah masyarakat yang represi dan manipulasi tidak hadir. Dengan landasan dan wawasan tersebut, demokrasi yang baik dan sehat meniscayakan adanya masyarakat yang tercerahkan dan hadirnya lembaga-lembaga control, sebab seperti dinyatakan Lord Acton yang sudah terkenal itu: “Kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan yang besar akan cenderung memiliki korupsi yang besar pula.”

Dalam hal demikian, pencerahan dan pendidikan politik atau civic education yang digerakkan dan dipraktikkan oleh masyarakat madani menjadi penting karena akan meminimalisir manipulasi politik dan praktik-praktik korupsi yang lahir dan muncul dari sahwat-sahwat politik.

Demikian pula, semisal filsuf seperti Hannah Arendt dan Jurgen Habermas pun menekankan bahwa demokrasi yang baik dan maju hanya dimungkinkan dalam sebuah lingkungan dan masyarakat yang tercerahkan dan hidup budaya civil society-nya, hadirnya lembaga kontrol yang independen, media yang jujur dan objektif, hingga apa yang pernah dinyatakan Raymond Aron dalam salah-satu ceramahnya di California University pada tahun 1963 itu masih relevan untuk saat ini:”Demokrasi adalah juga suatu keadaan masyarakat, bukan semata bentuk pemerintahan atau rezim politik”. Demikian!

*Penyair dan peminat literatur sastra, filsafat, dan budaya.

Sulaiman Djaya Memakai Baret

Iklan

Kenapa Menulis Penting?

Tag

, , , ,

kembang-putih.jpg

oleh Sulaiman Djaya* (Radar Banten, 25 Mei 2016)

Penting untuk apa dan penting bagi siapa? Sebelum menjawab 3 pertanyaan yang saya ajukan sendiri itu, izinkan saya berceloteh, yang tentu saja sejumlah celoteh yang argumentatif dan ‘ilmiah’, bukan celotehan anak-anak baru gede (ABG) yang suka curhat di dunia maya seperti di jejaring sosial.

Dulu kala, bangsa-bangsa yang telah membangun peradaban-peradaban besar, yang jejak dan warisan atau artefak peninggalan mereka masih ada hingga saat ini, mereka menuliskan pikiran-pikiran dan pengetahuan-pengetahuan mereka, bahkan tulisan-tulisan mereka dipahat di monumen-monumen, bangunan-bangunan, dan sejumlah tempat yang mereka bangun, yang dengan tulisan-tulisan mereka itu mereka juga hendak bercerita dan ‘mengabarkan’ apa dan bagaimana mereka menjalani hidup. Bangsa-bangsa itulah yang kelak kita kenal telah menciptakan hiroglif, huruf paku, angka-angka, simbol-simbol dan yang sejenisnya, seperti bangsa Mesir, Mesopotamia, Babilonia, Persia, China (yang dikenal sebagai bangsa yang pertama-kali menciptakan kertas itu) dan yang lainnya.

Bahkan mereka yang telah kita klaim sebagai manusia-manusia berperadaban primitif pun menulis, semisal menulis dan menggambarkan kehidupan mereka dan apa yang mereka lakukan dalam hidup mereka, dengan narasi yang menggunakan media gambar, simbol, lukisan, namun intinya mereka telah bersikap historis dan mempraktikkan dokumentasi, yang karenanya mereka memberi ‘data’ dan ‘fakta’ kepada kita, sehingga kita jadi tahu, meski tidak semuanya, apa dan bagaimana kehidupan mereka di masa silam itu.

Dengan ilustrasi tersebut, praktik ‘menulis’ memang membuat kita tidak sama dengan binatang yang lainnya, dan karena itu kita yang lazim disebut manusia ini, dalam istilah Arab (dalam ilmu manthiq), disebut ‘al-hayawan al-nathiq’ alias binatang yang berpikir dan berbahasa, binatang yang menulis, yang artinya bahwa menulis adalah ciri dan aktivitas binatang yang beradab dan memiliki peradaban. Singkat kata, menulis adalah atribut dan kapasitas ‘binatang berperadaban’ yang kebetulan binatang itu adalah manusia, dan yang dengan tulisan itulah, pengetahuan dan peradaban manusia terus berkembang, berbeda dengan binatang yang bukan ‘al-hayawan al-nathiq’.

Dan seperti kita tahu, seiring dengan perkembangan sejarah, zaman, dan kebutuhan manusia yang kian kompleks, menulis pun dipraktikkan dan berkembang bersamaan dengan semakin beragam pula kepentingannya, yang contoh-contohnya telah disebutkan, semisal demi kepentingan historis dan dokumentasi serta mengembangkan pengetahuan manusia itu sendiri.

Kemampuan menulis adalah ciri dan atribut orang-orang yang literer, terpelajar alias terdidik, sebagaimana kejeniusan para ilmuwan, filsuf, dan para pujangga terpancar dan tercermin dari tulisan-tulisan mereka, hingga bahkan ukuran kecerdasan dan kejeniusan para ilmuwan, para filsuf, dan para pujangga itu sendiri diukur dari tulisan-tulisan mereka dan karangan-karangan mereka, selain karena sebab tulisan-tulisan mereka itulah pengetahuan dan kecerdasan manusiawi itu dapat disebarkan kepada yang lain yang pada saat bersamaan terdokumentasikan, yang karenanya kecerdasan dan pengetahuan pun menjadi maju dan berkembang, dan karena itu pula dapat dikatakan bahwa praktik dan laku menulis adalah rahim peradaban itu sendiri.

Menulis pun sangat berbeda maqom dan derajatnya dengan membaca ‘tulisan’, meski tak jarang para penulis hebat adalah juga para pembaca yang suntuk dan sungguh-sungguh, karena sudah jamak dimaphumi banyak orang yang ‘berpengetahuan’ dan ‘pintar’ tak mampu menulis dengan baik dan bagus, sebagaimana banyak pula orang pintar tak bagus dalam mengemukakan dan mengkomunikasikan ilmu dan pengetahuan mereka secara lisan.

Ketika orang menulis, pada saat itu ia juga melakukan aktivitas berpikir, menyusun, mengarang, dan merangkai apa yang ingin ia katakan, apa yang ingin nyatakan, apa yang ingin ia ungkapkan, apa yang ingin ia argumentasikan melalui tulisannya dengan bahasa dan kata-kata sebagai medium dan instrument penyampaiannya, dan karenanya kemampuan menulis beriringan dengan kecakapan dan kecerdasan berbahasa itu sendiri. Bagaimana pengetahuan mereka (yang menulis) dapat dikomunikasikan kepada orang lain alias kepada para pembacanya. Menulis membutuhkan energi dan pikiran yang jauh lebih besar ketimbang membaca, juga tenaga dalam arti dan pengertian fisikal.

Menulis merupakan praktik dan laku berpikir (aksi meditatif) yang sifatnya kognitif dan intelektual serta kerja fisik pada saat bersamaan, dan dalam hal inilah para penulis adalah pekerja peradaban, mereka yang bekerja dan mengabdikan hidupnya untuk perkembangan dan kemajuan sejarah ummat manusia dan peradabannya. Dan seperti telah dikatakan, karena manusia binatang yang berpikir dan berbahasa (al-hayawan al-nathiq), maka dengan bahasa itulah manusia dapat mengembangkan pengetahuan, kecerdasan dan peradabannya.

Dan dengan tulisan pula-lah pengetahuan dan kecerdasan manusiawi itu diajarkan, diwariskan, dan dikembangkan kepada dan oleh generasi manusiawi selanjutnya. Kita bisa tahu, misalnya, bangsa-bangsa yang maju secara kultural, saintifik, dan historis adalah bangsa-bangsa yang paling produktif menulis, di mana pada saat bersamaan (entah ini kebetulan koheren atau bukan) bangsa-bangsa yang maju secara sains dan tekhnologi adalah bangsa-bangsa yang telah melahirkan para pujangga besar, seperti Rusia, Jerman, dan Persia, sekedar untuk menyebut sedikit contoh saja.

Demikianlah, di masa silam, bangsa-bangsa yang berhasil membangun peradaban-peradaban agung dan sejumlah mahakarya adalah bangsa-bangsa yang menuliskan pengetahuan dan kecerdasan mereka, dari Mesir, Babilonia, Mesopotamia, Persia, China, hingga Yunani.

*Komite Sastra Dewan Kesenian Banten dan Penasehat Kubah Budaya