Tag

, , , ,

kembang-putih.jpg

oleh Sulaiman Djaya* (Radar Banten, 25 Mei 2016)

Penting untuk apa dan penting bagi siapa? Sebelum menjawab 3 pertanyaan yang saya ajukan sendiri itu, izinkan saya berceloteh, yang tentu saja sejumlah celoteh yang argumentatif dan ‘ilmiah’, bukan celotehan anak-anak baru gede (ABG) yang suka curhat di dunia maya seperti di jejaring sosial.

Dulu kala, bangsa-bangsa yang telah membangun peradaban-peradaban besar, yang jejak dan warisan atau artefak peninggalan mereka masih ada hingga saat ini, mereka menuliskan pikiran-pikiran dan pengetahuan-pengetahuan mereka, bahkan tulisan-tulisan mereka dipahat di monumen-monumen, bangunan-bangunan, dan sejumlah tempat yang mereka bangun, yang dengan tulisan-tulisan mereka itu mereka juga hendak bercerita dan ‘mengabarkan’ apa dan bagaimana mereka menjalani hidup. Bangsa-bangsa itulah yang kelak kita kenal telah menciptakan hiroglif, huruf paku, angka-angka, simbol-simbol dan yang sejenisnya, seperti bangsa Mesir, Mesopotamia, Babilonia, Persia, China (yang dikenal sebagai bangsa yang pertama-kali menciptakan kertas itu) dan yang lainnya.

Bahkan mereka yang telah kita klaim sebagai manusia-manusia berperadaban primitif pun menulis, semisal menulis dan menggambarkan kehidupan mereka dan apa yang mereka lakukan dalam hidup mereka, dengan narasi yang menggunakan media gambar, simbol, lukisan, namun intinya mereka telah bersikap historis dan mempraktikkan dokumentasi, yang karenanya mereka memberi ‘data’ dan ‘fakta’ kepada kita, sehingga kita jadi tahu, meski tidak semuanya, apa dan bagaimana kehidupan mereka di masa silam itu.

Dengan ilustrasi tersebut, praktik ‘menulis’ memang membuat kita tidak sama dengan binatang yang lainnya, dan karena itu kita yang lazim disebut manusia ini, dalam istilah Arab (dalam ilmu manthiq), disebut ‘al-hayawan al-nathiq’ alias binatang yang berpikir dan berbahasa, binatang yang menulis, yang artinya bahwa menulis adalah ciri dan aktivitas binatang yang beradab dan memiliki peradaban. Singkat kata, menulis adalah atribut dan kapasitas ‘binatang berperadaban’ yang kebetulan binatang itu adalah manusia, dan yang dengan tulisan itulah, pengetahuan dan peradaban manusia terus berkembang, berbeda dengan binatang yang bukan ‘al-hayawan al-nathiq’.

Dan seperti kita tahu, seiring dengan perkembangan sejarah, zaman, dan kebutuhan manusia yang kian kompleks, menulis pun dipraktikkan dan berkembang bersamaan dengan semakin beragam pula kepentingannya, yang contoh-contohnya telah disebutkan, semisal demi kepentingan historis dan dokumentasi serta mengembangkan pengetahuan manusia itu sendiri.

Kemampuan menulis adalah ciri dan atribut orang-orang yang literer, terpelajar alias terdidik, sebagaimana kejeniusan para ilmuwan, filsuf, dan para pujangga terpancar dan tercermin dari tulisan-tulisan mereka, hingga bahkan ukuran kecerdasan dan kejeniusan para ilmuwan, para filsuf, dan para pujangga itu sendiri diukur dari tulisan-tulisan mereka dan karangan-karangan mereka, selain karena sebab tulisan-tulisan mereka itulah pengetahuan dan kecerdasan manusiawi itu dapat disebarkan kepada yang lain yang pada saat bersamaan terdokumentasikan, yang karenanya kecerdasan dan pengetahuan pun menjadi maju dan berkembang, dan karena itu pula dapat dikatakan bahwa praktik dan laku menulis adalah rahim peradaban itu sendiri.

Menulis pun sangat berbeda maqom dan derajatnya dengan membaca ‘tulisan’, meski tak jarang para penulis hebat adalah juga para pembaca yang suntuk dan sungguh-sungguh, karena sudah jamak dimaphumi banyak orang yang ‘berpengetahuan’ dan ‘pintar’ tak mampu menulis dengan baik dan bagus, sebagaimana banyak pula orang pintar tak bagus dalam mengemukakan dan mengkomunikasikan ilmu dan pengetahuan mereka secara lisan.

Ketika orang menulis, pada saat itu ia juga melakukan aktivitas berpikir, menyusun, mengarang, dan merangkai apa yang ingin ia katakan, apa yang ingin nyatakan, apa yang ingin ia ungkapkan, apa yang ingin ia argumentasikan melalui tulisannya dengan bahasa dan kata-kata sebagai medium dan instrument penyampaiannya, dan karenanya kemampuan menulis beriringan dengan kecakapan dan kecerdasan berbahasa itu sendiri. Bagaimana pengetahuan mereka (yang menulis) dapat dikomunikasikan kepada orang lain alias kepada para pembacanya. Menulis membutuhkan energi dan pikiran yang jauh lebih besar ketimbang membaca, juga tenaga dalam arti dan pengertian fisikal.

Menulis merupakan praktik dan laku berpikir (aksi meditatif) yang sifatnya kognitif dan intelektual serta kerja fisik pada saat bersamaan, dan dalam hal inilah para penulis adalah pekerja peradaban, mereka yang bekerja dan mengabdikan hidupnya untuk perkembangan dan kemajuan sejarah ummat manusia dan peradabannya. Dan seperti telah dikatakan, karena manusia binatang yang berpikir dan berbahasa (al-hayawan al-nathiq), maka dengan bahasa itulah manusia dapat mengembangkan pengetahuan, kecerdasan dan peradabannya.

Dan dengan tulisan pula-lah pengetahuan dan kecerdasan manusiawi itu diajarkan, diwariskan, dan dikembangkan kepada dan oleh generasi manusiawi selanjutnya. Kita bisa tahu, misalnya, bangsa-bangsa yang maju secara kultural, saintifik, dan historis adalah bangsa-bangsa yang paling produktif menulis, di mana pada saat bersamaan (entah ini kebetulan koheren atau bukan) bangsa-bangsa yang maju secara sains dan tekhnologi adalah bangsa-bangsa yang telah melahirkan para pujangga besar, seperti Rusia, Jerman, dan Persia, sekedar untuk menyebut sedikit contoh saja.

Demikianlah, di masa silam, bangsa-bangsa yang berhasil membangun peradaban-peradaban agung dan sejumlah mahakarya adalah bangsa-bangsa yang menuliskan pengetahuan dan kecerdasan mereka, dari Mesir, Babilonia, Mesopotamia, Persia, China, hingga Yunani.

*Komite Sastra Dewan Kesenian Banten dan Penasehat Kubah Budaya

Iklan