Tag

,

Radar Banten, 11 September 2015

Aspirasi dan keinginan untuk membentuk Dewan Kesenian Banten kembali mencuat dan menguat saat ini, setelah sebelumnya institusi tersebut mati dan tak berumur panjang. Memang, isu dan entitas kesenian dan kebudayaan itu sendiri sangatlah urgen dan merupakan ruh masyarakat yang memiliki peradaban dan kadar intelegensi yang akan membuatnya tangguh dan memiliki kreativitas. Di sini, penulis teringat apa yang pernah dikatakan Jennifer Lindsay, yaitu bahwa:“Menjadi orang Indonesia bukan semata-mata soal politik, tapi juga isu budaya,” dan apa yang dinyatakan Jennifer Lindsay dalam esai panjangnya yang berjudul Ahli Waris Budaya Dunia itu juga mendapatkan konteksnya di Banten, yang salah-satunya upaya untuk menghidupkan kesenian dan kebudayaan, singkatnya untuk membangun peradaban itu sendiri, memang meniscayakan institusi yang mewadahi dan menjadi penyelenggaranya.

Jika kita pinjam parafrase Jennifer Lindsay tersebut dalam konteks Banten, maka akan berbunyi: “Menjadi orang Banten bukan semata-mata soal politik, tetapi juga isu budaya.” Termasuk dalam hal ini adalah upaya untuk mencipta kota budaya. Nah, suatu ketika seorang teman pernah melontarkan pertanyaan: Apakah gagasan kota budaya bukan hal utopis dalam konteks Banten? Pertanyaan seorang teman dalam suatu kesempatan lesehan itu sebenarnya bisa dibilang wajar, jika kita melihat kenyataan bahwa secara budaya, kota-kota di Banten memang belum “semaju” Bandung, Jogja, atau Jakarta misalnya. Namun, melihat potensi pariwisata dan kultur Banten sendiri dengan pengalaman historis-nya yang kosmopolit, tentu bukanlah hal utopis jika kita ingin membangun atau mencipta Banten yang intelektual dan berbudaya.

Dalam hal ini, bila meminjam wawasan-nya Richard Florida, contohnya, apa yang perlu dilakukan untuk mencipta kota budaya tersebut tak lain dengan jalan membangun infrastruktur demi mendukung kreativitas dan membangun komunitas-komunitas yang dapat mewadahi dan memfasilitasi pekerja-pekerja kreatif. Sebab menurut Richard Florida, jika sebuah kota ingin hidup maju dan selaras secara budaya dan ekonomi, maka sebuah kota mestinya mampu menciptakan iklim orang-orang untuk hidup, betah, dan bahagia di dalamnya dengan kerja dan kreativitas para penghuninya. “Kota yang baik adalah kota yang mampu membuat warganya hidup tanpa kekhawatiran dan bebas mengekspresikan sikap dan gagasan-gagasan warganya, bukan kota yang membuat warganya bungkam dan tidak kreatif.” Kota budaya, lanjutnya, tumbuh dan maju dari gagasan-gagasan kreatif yang berbuah karya yang dapat menjadi aset dan nilai bisnis.

Lebih lanjut yang juga menarik adalah memberdayakan aset kebudayaan Banten itu sendiri sebagai materi kesenian dan kebudayaan yang harus dijaga dan dikembangkan. Yang lainnya adalah dengan meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan formal dan informal hingga mampu melahirkan sumber daya manusia pencipta dan memiliki karakter pekerja keras yang kreatif. Dibandingkan dengan kota-kota lain semisal Bandung dan Jogjakarta, minimal hingga saat ini, kota-kota di Banten termasuk kota-kota yang belum sepenuhnya dapat dikatakan sebagai kota yang sadar budaya, dan seperti kita ketahui bersama, tak memiliki fasilitas-fasilitas budaya yang memadai dan layak, semisal gedung-gedung bagi perhelatan acara kesenian, kesusastraan, atau kebudayaan secara umum selain alun-alun kota.

PENTINGNYA INSTITUSI KEBUDAYAAN
Tentu saja, salah-satu syarat bagi hidupnya sebuah kota budaya adalah dengan ada dan hadirnya institusi-institusi kultural. Institusi kebudayaan menjadi penting karena selain dapat menjadi tempat interaksi dan kerja kreatif, juga dapat ikut menyumbangkan kemajuan pemahaman dan daya-cipta masyarakat. Di sini penulis teringat apa yang pernah dikatakan Vaclav Havel bahwa kebudayaan itu sendiri dapat menjadi tolok-ukur kekuatan dan potensi masyarakat. Dengan demikian, kerja kebudayaan dan kesenian pada dasarnya adalah upaya dan kerja emansipatif ketika karya-karya kebudayaan atau kesenian yang kita hasilkan menciptakan wawasan pemahaman, perbaikan, dan perubahan positif bagi kebanyakan orang atau menjadi semacam pendidikan kultural bagi publik lebih luas.

Selain itu, institusi dan komunitas kebudayaan bisa menjadi wadah yang dapat menciptakan tradisi intelektual dan budaya mencipta. Tentu saja, bersamaan dengan itu, etos kreatif dapat menyumbang daya-cipta dan daya kreatif masyarakat, terutama generasi muda yang memiliki kesempatan untuk menggali potensi kreativitasnya. Akan tetapi, seperti yang telah sama-sama kita pahami dan kita maphumi, perlu adanya sokongan fasilitas yang bisa membantu dan memelihara spirit dan etos daya cipta dan daya kreatif tersebut. Tanpa semangat untuk saling memelihara dan mengembangkan secara bersama, terasa sulit untuk menciptakan kota budaya dan memajukan kreativitas dan kehidupan kebudayaan.

POTENSI BUDAYA BANTEN
Kita juga tidak boleh lupa, bahwa secara kultural, Banten memiliki banyak sekali potensi kultural: dari yang tradisional hingga yang modern atau mutakhir. Secara historis, jejak kultural itu pun sangat nyata. Tengok saja peninggalan peralatan Gamelan Sekaten Kesultanan Banten di Museum Banten Lama atau warisan Sastra Lisan Magis Orang Kanekes itu. Di sini, para sejarawan dan arkeolog menyatakan bahwa selain sebagai penyebar Islam, Kesultanan Banten juga merupakan para pencipta atau agen kultural, utamanya seni-seni yang bernafaskan keagamaan semisal Seni Rudat atau tradisi-tradisi yang berkaitan dengan perayaan-perayaan hari-hari besar keagamaan, semisal Panjang Mulud yang juga merupakan tradisi Kesultanan Banten.

Masalahnya adalah terletak pada serius atau tidaknya untuk mengembangkan potensi tersebut. Lagi-lagi, sebagai cermin dan perbandingan, kita dapat melihat kota-kota semisal Solo dan Jojga yang sanggup mengidentikkan dirinya dengan ikon budaya tertentu, yang dengan sendirinya menciptakan trade mark dan citra bagi kota-kota bersangkutan. Kota-kota itu juga memiliki ghirrah dalam kesusastraan dan urat nadi intelektual.

POSISI SASTRA
Selanjutnya, yang juga tak kalah penting dalam dimensi intelektual dan kognitif yang akan menjadi rahim kemandirian dan kreativitas itu sendiri, adalah tumbuh baiknya minat dan kerja dalam bidang kesastraan dan geliat intelektual. Banyak pemikir alias filsuf, tentu tak ketinggalan para penulis dan seniman, dengan lantang dan tanpa ragu menyatakan bahwa kemajuan kognitif manusia alias ummat manusia dan masyarakat merupakan fondasi pertama yang akan menyediakan dan menjadi rahim lahirnya peradaban dan kemajuan sebuah masyarakat dan bangsa. Wajar, dalam sejumlah prasaran-nya kepada negara-negara berkembang yang mengundangnya untuk berceramah, Amartya Sen senantiasa menyarankan bahwa hal mendasar dan kebijakan pertama sebuah Negara yang ingin maju dan terbebas dari kemiskinan adalah dengan memajukan pendidikan dan kapasitas kognitif warganya alias masyarakatnya.

Dalam salah satu ceramahnya di Singapura pada tahun 1991, di Southeast Asian Studies Institute (Institute Asia Tenggara) itu, Amartya Sen mencontohkan Jepang yang bertahun-tahun kemudian menjadi masyarakat pencipta, kreatif, dan inovatif setelah melakukan restorasi bidang pendidikan dan membangun perpustakaan secara besar-besaran. Hingga data kepemilikan buku di Jepang pada masa restorasi mengalahkan Amerika dan Negara-negara di Eropa. Tak hanya itu saja, Jepang juga menggalakkan penerjemahan besar-besar dengan melakukan transfer pengetahuan, tanpa pandang bulu. Amartya Sen sendiri menyebut kesuksekan Jepang itu dengan istilah Kearifan Timur yang semestinya menjadi teladan bagi Negara-negara lainnya di Asia, meski memang tanpa harus menghilangkan identitas lokal atau identitas nasional bangsa yang bersangkutan.

Akhir kata, mestilah diakui bahwa kecerdasan kultural dan kognitif sebuah bangsa atau masyarakat tak diragukan lagi merupakan fondasi dasar alias fondasi utama majunya sebuah bangsa dan masyarakat. Ia merupakan prasyarat nomor wahid bagi lahirnya bangsa dan masyarakat yang kreatif dan inovatif, masyarakat yang mandiri dan pencipta. Dan apa yang dikatakan Amarya Sen itu, sebagaimana diakui oleh sejumlah pemimpin kenamaan semisal Lee Kuan Yew, bukanlah isapan jempol seorang pemikir pengkhayal.

Sulaiman Djaya

Pentingkah Dewan Kesenian Banten

Iklan