Tag

, , , , , , ,

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Indonesia Joko Widodo

(Foto oleh detik.com)

Radar Banten, 22 April 2015

Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada 18-24 April 1955 silam tak ragu lagi merupakan bukti nyata sumbangan Indonesia bagi dunia, baik secara politik dan yang lainnya. KAA tersebut tentu saja bukan tanpa konteks politik, namun justru sebaliknya, konferensi tersebut diselenggarakan dalam rangka memompa dan membangun kesadaran politik untuk merdeka bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Merdeka dalam segala hal: budaya, ekonomi, politik dll. Konferensi yang terbilang monumental tersebut kemudian menghasilkan apa yang kita kenal sebagai Dasasila Bandung, yang isinya adalah:

[1] Menghormati hak-hak asasi manusia dan menghormati tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB. [2] Menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara. [3] Mengakui persamaan derajat semua ras serta persamaan derajat semua negara besar dan kecil. [4] Tidak campur tangan di dalam urusan dalam negeri negara lain. [5] Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan dirinya sendiri atau secara kolektif, sesuai dengan Piagam PBB. [6] (a) Tidak menggunakan pengaturan-pengaturan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus negara besar mana pun. (b) Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain mana pun. [7] Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi atau menggunakan kekuatan terhadap keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara mana pun. [8] Menyelesaikan semua perselisihan internasional dengan cara-cara damai, seperti melalui perundingan, konsiliasi, arbitrasi, atau penyelesaian hukum, ataupun cara-cara damai lainnya yang menjadi pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB. [9] Meningkatkan kepentingan dan kerja sama bersama. [10] Menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional.

Dalam konteks politik global kala itu, yaitu di tengah situasi dan kondisi Perang Dingin antara kubu Washington (Amerika) dan Moskow (Uni Soviet), konferensi tersebut telah berhasil membangun suatu gerakan dan kekuatan alternatif baru di luar kubu Washington dan kubu Maskow, yaitu yang kelak kita kenal dengan Gerakan Non-Blok.

Dapat dikatakan, sukses dan terselenggaranya konferensi tersebut merupakan prestasi besar Indonesia dalam kancah global di era Bung Karno, yang bahkan dikatakan karena hal itulah, Indonesia dianggap sebagai “bapak” bagi sejumlah bangsa di benua Asia dan Afrika yang saat itu tengah berjuang untuk merdeka dan mandiri dari cengkeraman kolonialisme Barat. Sementara itu, secara subjektif, keberhasilan dan terselenggaranya konferensi tersebut menunjukkan kepiawaian dan kelihaian Soekarno dan Bangsa Indonesia dalam memerankan diri dalam percaturan dan pertarungan politik global, sehingga Indonesia dapat dibilang sebagai Kekuatan Ketiga (Poros Dunia Ketiga) di luar poros Washington dan Moskow kala itu.

Tak hanya itu saja, Konferensi Asia Afrika tersebut juga telah melahirkan solidaritas dan kerjasama ekonomi, politik, dan budaya di antara sejumlah bangsa di benua Asia dan Afrika, dan tentu saja telah menempatkan gengsi Indonesia (dan Bung Karno) sebagai kekuatan dunia yang sangat diperhitungkan, yang bahkan membuat Amerika merasa khawatir dan was-was kepada Bung Karno sejak suksesnya konferensi tersebut. Singkatnya, selain telah melambungkan nama Indonesia dalam kancah politik global, KAA tersebut juga telah melambungkan nama Bung Karno dalam barisan para pemimpin dunia yang sangat disegani dan sangat diperhitungkan.

Namun, yang tak boleh dilupakan adalah bahwa penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika itu sendiri memang didasari pada keinginan dan kehendak Bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa peserta konferensi tersebut untuk terbebas dari cengkeraman kolonialisme dan penjajahan suatu bangsa-bangsa tertentu (yang dalam hal ini Barat) atas dan terhadap bangsa-bangsa lain.

Konferensi Asia Afrika di tahun 1955 itu adalah sebuah spirit Bangsa Indonesia dan sejumlah bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk mandiri dan bebas menentukan nasibnya sendiri, dan juga dalam rangka memerangi unilateralisme dan dalam rangka membangun solidaritas bagi perdamaian dunia, sebagaimana tercermin dengan jelas dalam 10 poin Dasasila Bandung yang telah disebutkan itu.

Dalam hal ini, tak ada salahnya jika kita mengupas sedikit “kepiawaian” politik Bung Karno sendiri sebagai Presiden Indonesia, yang mana dalam Konferensi Asia Afrika di tahun 1955 itu, ia mengumandangkan sebuah pidato yang cukup spektakuler dan monumental yang berjudul “Let a New Asia And a New Africa be Born” (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). Dalam kesempatan tersebut Presiden Soekarno menyatakan bahwa kita, bangsa-bangsa Asia dan Afrika peserta konferensi, berasal dari kebangsaan yang berlainan, begitu pula latar belakang sosial dan budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda, namun demikian kita dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia.

Dan pada bagian akhir pidatonya itu, Bung Karno mengatakan: “Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!”

Dengan kata lain, Bung Karno telah berhasil menempatkan Indonesia sebagai aktor politik sangat penting dalam kancah politik global dengan menghimpun kekuatan dan solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika, yang kelak akan melahirkan Gerakan Non-Blok itu. Dan seperti kita tahu, dalam konteks perjuangan politik bangsa Indonesia sendiri, salah-satu kepiawaian Bung Karno adalah ketika dengan cerdik memainkan sentimen Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet bagi kepentingan Indonesia.

Sebagai contohnya adalah ketika ia menggunakan kartu Uni Soviet, dengan menerapkan kebijakan luar negeri dengan metode gertak sambal, yaitu menakut-nakuti Amerika bahwa militer Uni Soviet akan membantu Indonesia dan akan memporak-porandakan Belanda, negara sekutu abadi Amerika di tanah penjajahan Papua, ketika ia berusaha merebut Papua dari Belanda. Alhasil, berkat diplomasi Bung karno tersebut, Amerika pun tak berkutik, dan Presiden John F. Kennedy pun dengan sangat terpaksa memerintahkan Belanda untuk hengkang dari tanah Irian Barat (Papua).

Demikianlah, Papua (Irian Barat) pun kemudian bebas dari penjajahan Belanda tanpa harus jatuh korban dan melakukan peperangan besar. Sungguh sebuah permainan diplomasi cantik yang diperagakan oleh pemimpin Indonesia, yaitu Bung Karno, dengan spirit nasionalisme yang tinggi dan sikap pemerintahan yang independen. Sebuah kepiawaian politik yang dimainkan seorang pemimpin yang memadukan Islam, Marxisme (semangat anti penjajahan dan penindasan), dan nasionalisme pada saat bersamaan dalam konteks percaturan dan pertarungan politik global era Perang Dingin kala itu.

Sulaiman Djaya

Iklan