Tag

, , ,

Radar Banten, 17 Juni 2010

Sajak-sajak Tina K, sebagaimana yang dapat kita baca dalam buku kumpulan sajaknya yang berjudul Corridor of the Lost Steps, memang merupakan sejumlah jejak yang berserakan, terlebih seperti yang diakui sendiri oleh penulisnya, sajak-sajak tersebut merupakan sebentuk kenangan dan perjumpaan di beragam tempat, seakan-akan sajak-sajak tersebut adalah kaligrafi-kaligrafi singkat pada sekian kartu, sejumlah kartu-kartu ingatan, yang entah riang atau pun pedih, dapat dipahami sebagai potret-potret tak bergambar yang bercerita tentang kesepian dan relung-relung personalitas seorang perempuan. Seperti tergambar dalam salah-satu sajaknya yang berjudul Istanbul: “Menyusuri bazaar labirin yang sesak dan wangi narwastu, namamu kulafadzkan seperti mantra-mantra perempuan yang kasmaran, tak lagi tahu tujuan”.

Bahkan di sajak-sajak berikutnya, pembaca dapat menemukan dan merasakan aroma kehilangan yang menjadi tema sajak-sajaknya, selain tema-tema tentang kerentanan diri dan subjek yang disampaikan dengan nada ironis, sesekali terasa suram juga: “Dalam gereja yang sesak // saat hosti dibagikan // alangkah masak kesedihan” (Pedih).

Membaca sajak-sajak Tina K. pembaca akan disuguhi sesuatu yang berbeda dan ironis, terlebih belakangan ini kita terlampau sering membaca sajak-sajak yang lebih mirip cerita pendek, panjang dan bertele-tele, hingga ketika kita membaca sajak-sajaknya Tina K, kerinduan kita pada bentuk puisi yang padat dan agak sedikit enigmatik akan langsung terobati, sebentuk puisi yang justru sanggup menampung sebanyak mungkin informasi dengan kepadatannya, di saat puisi tersebut tak ubahnya pecahan kaca dan sobekan gambar.

Begitu pun permainan imajinatif sajak-sajaknya Tina K. mampu membuat pembacanya meresapi kesunyian dan penghayatan-penghayatan seorang penyairnya tentang infinitas, ketika yang pasti menjadi tak pasti, dan yang tak pasti tiba-tiba menjadi lebih nyata: “Sungguh, cintaku pasti seperti matahari terbit // dan bulan tenggelam” (Pasti).

Kebanyakan sajak-sajaknya Tina K. sebagaimana yang terkumpul dalam buku antologinya yang berjudul Corridor of the Lost Steps merupakan sejumlah Haiku yang romantis dan sentimentil, justru di saat sajak-sajaknya bersembunyi ketika ingin dipahami dan diselami, yang dalam hal ini kiranya tepat ketika frasenya Kurnia Effendi mengatakan kerinduan dan cinta penyarinya membuat pembaca ingin berendam di dalamnya, yang juga bila ditambahkan, membuat pembacanya ingin menerka apa gerangan yang hendak diceritakan oleh serpihan dan potongan-potongan gambarnya yang serupa kaligrafi-kaligrafi singkat, yang adakalanya terasa pedih dan menyakitkan.

Meskipun demikian, pembaca akan merasakan beberapa puisinya terasa terang, tetapi kesederhanannya itu tetap berada dalam porsi kejujuran penyairnya yang memang merasa tak perlu membangun imajinasi yang berlebihan yang memanglah sebaiknya diungkapkan atau diekspresikan dengan sederhana dan apa adanya. Seperti salah-satu sajaknya yang berjudul Te Quiero: “Seperti langit menangis // hatiku pun tiris // di pintumu aku berhenti // tak ingin kembali”. Hal itu tentu saja berbeda dengan salah-satu sajaknya yang berjudul Taberna: “Pada sore // aku tersesat // di antara meja-meja marmer // dan ribuan kata // yang kumuntahkan di atasnya”, di mana pada sajak yang kedua, suasana bathin telah dipinjamkan kepada benda-benda dan penggambarannya.

Mungkin karena karir penulisnya yang lebih dikenal sebagai cerpenis, sajak-sajaknya ditulis dengan kesadaran perbedaan antara puisi dan prosa dalam artian umum, ketika sajak-sajaknya Tina K. menghindari gaya dan bentuk sajak yang panjang dan bertele-tele, karena dalam artian ini sajak bukanlah prosa. Bahkan salah-satu sajaknya yang berjudul Kangen hanya terdiri dari dua baris tak ubahnya sebuah Haiku: “Rindu itu danau yang menggenang // di manakah pintu bendungan?”, juga salah-satu sajaknya yang berjudul Mi Querido: “Padamu sepi itu begitu melekat // padamu kesedihanku kian rapat”. Sementara itu salah-satu sajaknya yang berjudul Kasmaran hanya teridiri dari tiga baris: “Ini aku, perempuan kasmaran // yang hanyut lalu tenggelam // aku tak bisa berenang pulang”, juga sajaknya yang berjudul Pedih: “Dalam gereja yang sesak // saat hosti dibagikan // alangkah masak kesedihan”. Salah-satu sajak pendek lainnya adalah yang berjudul Duka yang hanya terdiri dari empat baris: “Angsana tetap cantik, abang // sekalipun runduk ditindih hujan // apakah aku tetap cantik, abang // sekalipun bungkuk ditindih beban?”.

Dalam sajak-sajak yang telah dicontohkan di atas, terasa sekali yang dominan adalah unsur nada dalam sejumlah komposisi-komposisi yang singkat dan padat.

Setidak-tidaknya, kehadiran sajak-sajaknya Tina K. akan menyumbangkan kekayaan perpuisian Indonesia yang belakangan ini didominasi sajak-sajak yang cenderung prosais dan panjang. Sajak-sajak pendek yang padat dan enigmatik justru akan lebih mampu menghadirkan dirinya sebagai karya-karya yang menawarkan kekayaan makna dan ragam penafsiran kepada pembacanya. Di sini kita dapat mencontohkannya dengan salah-satu sajaknya yang berjudul La Silence: “Sepi itu setia // ia membebat luka-luka // sepi itu airmata // yang mengalir seperti sungai // tak menemukan muara”.

Akhirnya dapatlah dikatakan, sajak-sajaknya Tina K. adalah sejumlah puisi yang memang berusaha sedapat mungkin menjadikan dirinya sebagai sejumlah teka-teki, serpihan-serpihan, sobekan-sobekan, atau pun kenangan-kenangan yang berserakan di beragam tempat. Juga sebagai sejumlah kaligrafi-kaligrafi singkat yang sentimentil dan romantis yang tak ubahnya catatan-catatan singkat sejumlah kisah cinta dan ingatan yang ditulis pada sejumlah kartu-kartu di banyak tempat dan persinggahan.

Sulaiman Djaya

Iklan