Tag

,

Toto ST Radik - Budaya

Oleh Sulaiman Djaya (Radar Banten, 19 Maret 2016)

Tulisan ini merupakan upaya interpretasi dan pembacaan atas sejumlah puisi Toto ST Radik yang terkumpul dalam buku Kepada Para Pangeran. Penulis memilih judul Romansa Kampung Halaman setelah membaca dengan cermat sejumlah puisi-puisi dalam buku Kepada Para Pangeran tersebut, yang ternyata ‘berkisar’ dan ‘mengambil’ isu dan tema-nya tentang Banten, yang merupakan tanah kelahiran penyairnya. Dalam upaya melakukan pembacaan dan interpretasi ini, penulis memposisikan diri sebagai seorang ‘penerima’ dan ‘pembaca teks’ yang bebas (yang nantinya melakukan pembacaan berdasarkan khazanah dan wawasan teoritik dan filosofis pembacaan teks yang dimiliki penulis) sendiri.

Sejumlah puisi Toto ST Radik yang terkumpul dalam buku Kepada Para Pangeran tersebut menurut ‘pembacaan’ dan ‘interpretasi’ penulis sangat kental sekali dipinjam (dijadikan media tulisan atau narasi tekstual) sebagai upaya ‘menarasikan’ kenangan penyairnya seputar tanah kelahiran dan kampung halamannya, yang dalam hal ini Banten, sembari berupaya melakukan kritik sosial dan politik ketika penyairnya berusaha melakukan ziarah atau perbandingan ke masa silam dalam upaya mengkontekstualisasikannya dengan ‘ke-sekarang-an’. Hal itu terlihat ketika sejumlah puisinya, contohnya, bahkan menggunakan judul-judul seperti Kampung, Halaman, dan Kelahiran, yang bahkan hal itu ditunjukkan dengan puisi pertamanya dalam buku Kepada Para Pangeran tersebut, yang berjudul “Kampung Kesayangan”:

apa kabar, didi? dua belas tahun sudah kita tak lagi
bermain di lumpur sawah, saling berbantah, kemudian
mencuri bukubuku di toko dan perpustakaan kota
sambil mengkhayalkan kampung kesayangan yang lebih baik

Puisi yang yang berjudul ‘Kampung Kesayangan’ tersebut merupakan sebuah narasi tekstual yang ‘menjadikan’ dirinya sebagai upaya atau ikhtiar untuk mengisahkan kenangan dan romansa masa silam penyairnya, yang secara retorik diwujudkan dalam bentuk pertanyaan romantik kepada seseorang: ‘apa kabar, didi? dua belas tahun sudah kita tak lagi bermain di lumpur sawah, saling berbantah, kemudian mencuri bukubuku di toko dan perpustakaan kota’, yang pada saat bersamaan puisi tersebut juga berusaha membandingkan romansa dan kenangan masa silam yang disuarakan dan diujarkannya dengan kenyataan ‘kekinian’ tanah kelahiran si penyair (Banten): ‘sambil mengkhayalkan kampung kesayangan yang lebih baik’, yang tak ragu lagi ingin menyuarakan suatu harapan yang berbeda dengan masa silam bagi tanah kelahiran si penyair, yang dalam hal ini Banten, dan persis pada saat itulah, terkandung juga kritik sosial dan politik yang halus dalam puisi tersebut.

Dalam hal ini, pusi yang berjudul ‘Kampung Kesangan’ tersebut adalah contoh narasi puitik yang berhasil mengabungkan dan menyelaraskan suara-suara romantik dan kritik sosial-politik yang halus dan tidak verbal:

didi, aku ingin engkau percaya bahwa setiap kali
memandang sawah, membaca buku, bermimpi tentang kampong
kesayangan yang malang, dan menuliskannya dalam puisi
selalu kurasakan kehadiranmu. dekat sekali

Kita dapat membaca dengan intim dan akrab, sebagaimana dicontohkan oleh larik-larik selanjutnya dari puisi yang berjudul ‘Kampung Kesayangan’ tersebut, kenangan dan romansa si penyair ingin sekali dibagi dengan seseorang, yang dengan demikian, menghendaki dirinya menjadi narasi dialog atau dialog naratif, ketika puisi tersebut ingin berbicara tentang kenangan seputar tanah kelahiran dan mengujarkan kritik-sosial politik secara halus dan ‘tersembunyi’ pada saat bersamaan. Begitu pun, bila dibaca secara intrinsik, puisi yang berjudul ‘Kampung Kesayangan’ tersebut adalah juga puisi yang berkisah tentang perjumpaan dengan diri si penyair itu sendiri dan sekaligus dengan ‘pengalaman historis’ –jika pengertian ‘historis’ di sini mencakup juga ‘pengalaman’ subjektif yang personal yang sifatnya bathin dan estetik.

Puisi yang juga tidak jauh berbeda secara muatan dan dari segi ‘pilihan isu dan temanya’ dengan puisi ‘Kampung Kesayangan’ adalah puisi yang berjudul ‘Mencari Kampung Halaman atawa Kasidah Malam’, yang bila dilihat secara naratif, pilihan diksi, dan retoriknya dapat dikatakan lebih halus dan lebih senyap, menebarkan teka-teki atau enigma yang akan mengundang pembacaan yang sunyi bagi kita sebagai pembacanya:

assalamu’alaikum wahai
pintupintu yang terkunci
inilah rebanaku
inilah sajakku

aku mengembara di jalanan katakata
menyapa semua yang masih sempat ada
dengan sayapsayap cinta aku terbang
mencari kampung halaman yang hilang

Sembari mengamsalkan dirinya akrab dan berbincang-bincang dengan benda-benda, dengan pintu-pintu yang terkunci, puisi berjudul ‘Mencari Kampung Halaman atawa Kasidah Malam’ itu seakan mendendangkan lagu-lagu rebana atau nyanyian kasidah romantik tentang nestapa yang sunyi seorang penyair, tentang ‘kampung halaman yang hilang’ yang berusaha dihadirkan kembali oleh penyairnya dalam konteks atau moment ‘ke-sekarang-an’ kehidupan si penyair ketika si penyair teringat kembali suatu konteks tertentu atau ‘era khusus’ dari suatu tempat dan waktu yang bernama ‘kampung halaman’ atau juga ‘tanah kelahiran’, yang dengan demikian pada saat bersamaan, ‘tempat dan waktu’ yang hilang itu ternyata masih saja ada, meski hanya dalam ingatan atau dalam ikhtiar pengimajinasiannya kembali oleh penyair. Sebentuk ikhtiar dan upaya untuk ‘mengekalkan’ dan ‘mewujudkan kembali’ apa yang sudah retak dan tercecer di masa silam:

aku mengaji di sunyi sejati
mendaki malammalam paling nyeri
mencari kampong halaman yang hilang

Yang pada saat itu si penyair ingin mempersembahkan sajak dan lagu atau kasidah rebana malam-nya dengan gembira dan riang hati, meski dirundung kerinduan sunyi yang tak terobati. Puisi berjudul ‘Mencari Kampung Halaman atawa Kasidah Malam’ adalah puisi elegi yang lahir dan terinspirasi dari suatu moment atau peristiwa yang dialami penyair di masa silam. Puisi ‘Mencari Kampung Halaman atawa Kasidah Malam’ dan ‘Kampung Kesayangan’ telah menunjukkan dengan sangat baik keterikatan penyairnya dengan tanah kelahiran yang ia maknakan dan ia kontekskan kembali sebagai ‘ruang dan waktu’ yang menjelama nada dan sajak, yang pada saat bersamaan dipinjam sebagai kritik sosial dan politik yang diutarakan dengan sindiran halus dan ironi yang sifatnya personal dan subjektif.

Iklan