Tag

, , ,

Pasukan Sarung Yaman Hadapi Serangan Darat Saudi dan Mesir

Radar Banten, 10 April 2015

Di tengah ramainya berita di media-media elektronik dan media-media jejaring sosial tentang agressi Saudi Arabia yang dibantu Amerika, Israel dkk terhadap Yaman, barangkali cukup penting untuk mengenal sekilas tentang Yaman itu sendiri, serta nilai dan posisi penting Negara itu dalam sejarah Islam dan secara politis.

Dari sudut sejarah Islam, nilai dan posisi penting Yaman terbilang istimewa, di mana Nabi Muhammad Saw pernah berdo’a untuk negeri tersebut, yang penggalan do’anya berbunyi (menurut ragam riwayat): “Ya Allah, berkahilah Yaman-ku dan Syams-ku”. Begitu pun dari sudut politik dan kiprah masyarakat Yaman dalam kancah sejarah Islam.

Dalam Perang Shiffin, contohnya, sejumlah tokoh Yaman punya saham besar dalam membela Islam dari rongrongan kaum dan golongan yang dipimpin Muawwiyah bin Abi Sufyan yang haus kuasa dan tak segan-segan mempolitisir agama demi kekuasaan, seperti Malik al Asytar, Adi at Tha’i, Zahr bin Nizar, dan Hani bin Urwah. Dari kabilah Yaman lain yang ikut dalam Perang Shiffin adalah Bani Ahmas yang disebutkan mengirimkan pasukan sebanyak 700 orang. Imam Hasan di masa kekhalifahannya juga didukung oleh para pecintanya, terutama dari kabilah-kabilah Yaman, namun strategi Muawwiyah yang memanfaatkan tokoh-tokoh yang cinta jabatan dan lemah dan akhirnya membuat mereka menarik dukungannya terhadap Khalifah Imam Hasan.

Kejadian ini akhirnya memaksa Imam Hasan melakukan perjanjian damai dengan Muawwiyah yang haus kekuasaan itu. Pasca perjanjian damai dan Muawiyah menjadi khalifah, Muawwiyah pun begitu membenci orang-orang Yaman yang senantiasa menjadi pendukung Ahlul Bait Nabi saw. Untuk itu ia mengirim Basar bin Artah untuk membantai mereka. Ketika Bin Artah tiba di Yaman, ia melakukan pembantaian massal. Jangan lupa bahwa peristiwa heroik Asyura di Karbala juga menjadi manifestasi lain dukungan orang-orang Yaman kepada Imam Husain. Sebagaimana dicatat dalam buku-buku sejarah, dari seluruh jumlah syahid di padang Karbala, 34 orang berasal dari Yaman, dari keseluruhan tujuh-puluhan lebih yang syahid di tempat yang kala itu sangat panas menyengat.

Sejatinya, orang-orang Yaman terbilang punya peran besar dan berpengaruh dalam sejarah Islam. Hijrahnya penduduk Yaman ke Hijaz dan Irak menciptakan perubahan politik penting bagi ummat Islam. Berpindahnya kabilah-kabilah Yaman ke daerah-daerah lain, dan kemudian tinggal di daerah baru membuat perubahan dalam komposisi penduduk semenanjung Arab Saudi. Hal ini dapat kita baca dan kita saksikan ketika pelbagai referensi sejarah menyebut pembagian Arab menjadi utara dan selatan atau Qahthani dan Yamani.

Kecenderungan orang-orang Yaman akan Ahlul Bait Nabi saw sesungguhnya telah muncul sejak dimulainya risalah Nabi Muhammad saw. Pada tahun ke-10 Hijriah, misalnya, Nabi Muhammad saw punya keinginan untuk menyeru masyarakat Yaman agar memeluk Islam. Demi merealisasikan keinginannya itu, beliau memerintahkan Khalid bin Walid menuju Yaman dan mendakwahkan Islam di sana. Namun selama 6 bulan tinggal di Yaman, tidak banyak keberhasilan yang diraih Khalid bin Walid. Pasca kegagalan Khalid bin Walid tersebut, Nabi menugaskan Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah ke Yaman.

Ketika tiba di Yaman, Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah segera membacakan surat Nabi saw kepada masyarakat kabilah Hamdan, dan setelah itu ia mengajak mereka memeluk agama Islam. Masyarakat kabilah Hamdan setelah itu seluruhnya mengikrarkan keislamannya. Pasca masuk Islamnya seluruh masyarakat Kabilah Hamdan, sejarah mencatat mereka menjadi sumber dari banyak perubahan.

Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah kemudian menyeru kabilah Mudzhij agar menerima Islam sebagai agamanya. Namun mereka menolak dan ingin tetap dalam kepercayaan sebelumnya. Hanya saja tidak cukup sampai di situ, mereka berusaha mencelakai utusan Nabi saw, yang tak lain Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah itu. Tetapi dalam konflik sekilas yang terjadi, kabilah ini kalah. Setelah itu Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah kembali mengajak mereka untuk memeluk agama Islam. Kali ini mereka menerima dan memeluk Islam.

Di sinilah tumbuh hubungan emosional antara masyarakat Yaman dengan Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Hubungan ini sedemikian eratnya, sehingga dapat ditebak betapa dari 23 orang yang menjadi inti lingkaran pertama Syiah (pengikut dan golongan Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah) pasca peristiwa Saqifah, 10 orangnya berasal dari Anshar Yaman. Ketika pembahasan kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah diwacanakan, sekalipun beliau menolak, para kabilah Yaman menunjukkan bahwa Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah lebih dari yang lain. Mereka mendorong beliau agar menerima jabatan khalifah. Berdasarkan satu penukilan sejarah, Malik al Asytar adalah orang pertama yang membaiat Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah kala itu.

Langkah-langkah pertama yang diambil Imam Ali karramallahu wajhah di awal menjabat sebagai khalifah kala itu adalah memilih gubernur untuk daerah-daerah Islam. Beliau memilih Ubaidullah bin Abbas sebagai gubernur Yaman. Sejak Imam Ali karramallahu wajhah menjabat sebagai khalifah, sejak itu pula muncul aksi-aksi merusak yang dilakukan kelompok Muawwiyah, dan akhirnya muncul Perang Jamal. Dalam peristiwa Perang Jamal, sebagaimana dalam perang Shiffin, orang-orang Yaman secara aktif ikut dalam barisan Imam Ali karramallahu wajhah dan menjadi faktor penentu kemenangan Imam Ali karramallahu wajhah dalam perang tersebut.

Lalu bagaimana dengan nilai dan posisi politis Yaman saat ini? Tentu kita tak boleh lupa, bahwa meski Yaman merupakan Negara miskin di semenanjung Arab dibanding para tetangganya, secara geografis sangat strategis, sebagaimana yang dikemukakan Dr. Muhsin Labib berikut ini:

“Yaman itu punya aset geografis yang sangat vital. Babul Mandab, yang 30% kekayaan dunia itu lewat dari situ, itulah pemisah antara Asia dan Afrika, selain Yaman juga punya pelabuhan besar, Teluk Aden. Jadi Yaman punya selat dan teluk. Ini yang pada masa-masa dulu terkenal. Itu jantungnya Yaman. Hampir sama dengan Selat Hormuz, Teluk Persia, yang Iran punya kekuatan besar di situ. Yaman juga punya kekuatan besar di Babul Mandab dan Aden, dulunya. Tapi, itu tidak difungsikan sekarang. Mengapa? Karena Yaman tidak diberi kesempatan untuk membangun negerinya. Akibatnya jadi miskin. Jadi miskinnya Yaman itu karena dimiskinkan. Sebab jika Yaman mampu membangun negaranya, menghidupkan kembali selatnya, pelabuhan Aden-nya maka beberapa negara di Teluk itu takkan punya apa-apa. Terutama Emirat, Dubai. Mereka hanya mengandalkan pelabuhan. Bayangkan kalau Yaman bangkit”.

Sulaiman Djaya

Iklan