Tag

, , ,

Iraqi Shia Muslim women attend the Eid al-Adha prayer in Baghdad, Iraq, on Oct 26, 2012. Attacks mostly targeting Shia Muslims killed 15 people in Iraq during the Islamic holiday AP Photo

Radar Banten, 12 Juni 2015

Secara bahasa dan istilah, sebagaimana diterangkan dengan indah oleh Ibn Arabi, kata ‘shaum’ (puasa) berasal dari kata ‘shama’ yang artinya ‘ketinggian’, dan karenanya menurut Ibn Arabi, puasa merupakan ibadah yang dimaksudkan untuk mencapai ketinggian kesalehan kita sekaligus dalam rangka meningkatkan hikmah dan kearifan kita yang melaksanakannya, tentu saja secara spiritual dan sosial. Imru al Qays, dalam salah satu sya’irnya contohnya, menggunakan kata ‘shama’ untuk menggambarkan ketinggian ‘matahari’: “Ketika siang mencapai ketinggiannya (shama) dan panasnya demikian kuat”.

Sementara itu, terkait keutamaan bulan Ramadan, Imam Ja’far Shadiq (ra) menerangkan: “Allah swt mewajibkan berpuasa untuk mempersamakan si kaya dan si miskin. Dengan puasa, yang kaya akan merasakan deritanya lapar untuk menimbulkan rasa belas kasihnya kepada si miskin –karena selama ini si kaya tak pernah merasakannya. Allah swt menghendaki untuk menempatkan makhluk-makhluk-Nya pada suatu pijakan yang sama dengan jalan membuat si kaya turut merasakan nestapanya lapar –sehingga ia menaruh belas-kasihan kepada orang yang lemah dan lapar” (Bihar al Anwar, 96:371).

Dengan apa yang diterangkan oleh Imam Ja’far as Shadiq (ra) tersebut, maka teranglah bagi kita bahwa puasa di bulan Ramadan selain merupakan ibadah mahdhah, juga mengandung nilai dan spirit sosial, yang salah-satunya adalah nilai dan ajaran solidaritas kepada sesama. Hal yang senada juga dinyatakan oleh Imam Ali bin Musa ar Ridho (ra): “Sesungguhnya mereka diperintahkan untuk mengerjakan puasa supaya mereka mengetahui betapa susahnya lapar dan dahaga itu –sehingga kesusahan akhirat akan dapat dibayangkan” (Wasail as Syi’ah, jilid 4, hal. 4).

Jadi, dapat dikatakan, salah-satu hikmah dari ibadah puasa di bulan Ramadan semestinya menumbuhkan sikap dan spirit ukhuwah atau solidaritas kepada sesama kita, yang terutama sekali kepada mereka yang kurang beruntung dalam hidup atau mereka yang kesehariannya akrab dengan derita dan nestapa. Maka, kita pun dapat mengambil kesimpulan, bahwa ibadah puasa di bulan Ramadan merupakan cerminan ibadah yang bersifat personal sekaligus ibadah yang bersifat sosial pada saat bersamaan. Singkatnya, bulan Ramadan mengandung hikmah yang mengajarkan solidaritas sosial atau ukhuwah.

Secara sosial-politik, sebagaimana telah kita maphumi bersama, solidaritas sosial ini salah-satunya dapat merperkuat kohesi sosial dan hubungan batin kita dengan sesama kita, selain dapat meredakan kesenjangan dan menjembatani ketimpangan sosial di antara kita. Dengan solidartas yang kita praktikkan kepada sesama kita, mereka yang merasakan hidup nestapa atau kekurangan, tidak akan ‘menyimpan’ kedengkian kepada kita atau dapat menumbuhkan kecintaan mereka kepada kita pada saat bersamaan.

Singkat kata, selain mengajarkan solidaritas dan kepekaan sosial kita, Ramadan juga ingin mendidik kita menjadi orang-orang arif atau orang-orang yang memiliki hikmah, sebagaimana diterangkan oleh Jibril as kepada Nabi Muhammad saw di dalam hadits Mi’raj-nya, “Wahai Tuhan, apakah yang diwariskan dari puasa? Allah swt menjawab: “Puasa itu mewariskan hikmah, dan hikmah itu mewariskan ma’rifat, dan ma’rifat itu mewariskan keyakinan. Maka apabila seorang hamba telah memiliki keyakinan niscaya ia tak lagi peduli apakah ia bangun di pagi hari dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang” (Bihar al Anwar, 77:27).

Tentu, keyakinan seperti yang diterangkan dalam hadits mi’raj-nya Rasulullah itu pula yang akan meneguhkan kita bahwa dengan menginfakkan sedikit dari harta kita kepada mereka yang papa dan kekurangan tidak malah akan membuat kita menjadi orang yang miskin dan kelaparan. Sebaliknya, akan membuat kita menjadi penyambung silaturahmi kepada para tetangga kita dan masyarakat di sekitar kita. Bila demikian, puasa Ramadan ternyata tak hanya hendak mendidik kita untuk saleh secara individual, private atau mahdhah terkait dengan hubungan kita dengan yang Maha Kuasa, namun juga hendak mendidik kita agar saleh secara sosial, yang dengan kesalehan sosial itu pula kesalehan individual kita justru semakin nyata dan diteguhkan.

Bersikap Bersahaja
Salah-satu sikap dan perilaku yang dapat meminimalisir kecemburuan sosial dalam rangka mempraktikkan solidaritas sosial Ramadan itu sendiri tentulah harus berangkat dan mulai dari sikap dan perilaku konsumtif kita sendiri. Di sini, ada satu penjelasan yang sangat baik sebagaimana yang dipaparkan Malaki Tabrizi tentang ragam sikap dan perilaku konsumtif mereka yang melaksanakan puasa Ramadan.

Pertama, para pelaksana puasa yang konsumsinya diperoleh melalui cara dan sarana yang haram. Kedua, orang-orang yang berpuasa lalu berbuka dengan makanan dan minuman yang terdiri dari bahan-bahan yang meragukan atau mengkonsumi makanan dan minuman yang syubhat. Ketiga, mereka yang melaksanakan puasa dan berbuka serta mengkonsumsi makanan dan minumannya dari cara dan sarana yang halal, namun berlebihan alias bersikap musrifin. Keempat, mereka yang melakukan puasa yang dalam mutu dan jumlah konsumsi makanan dan minumannya lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Dan yang Kelima, dan ini yang sesuai dengan spirit dan hikmah puasa Ramadan itu sendiri, yaitu mereka yang makanan dan minumannya dalam memenuhi kebutuhan puasa Ramadannya diperoleh dengan cara dan sarana halal dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsinya.

Sungguh apa yang dipaparkan Malaki Tabrizi itu sebuah gambaran yang nyata dan seringkali ada, hadir, dan kita jumpai dalam masyarakat kita selama bulan Ramadan. Haruslah kita akui pula, seringkali kadar konsumsi dan hasrat belanja atau gairah membeli kita menjadi berlebihan justru ketika di bulan Ramadan, yang tidak mencerminkan spirit prihatin yang hendak diajarkan dengan melaksanakan puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan itu sendiri. Sebuah sikap dan perilaku yang justru bertentangan dengan hikmah puasa Ramadan yang diterangkan oleh Imam Ja’far Shadiq (ra) dan Imam Ali bin Musa ar Ridho (ra) seperti telah disebutkan.

Ternyata, dengan melaksanakan puasa Ramadan, kita sesungguhnya diminta secara halus dan langsung untuk bercermin kepada diri kita sendiri, yang dengannya kita dapat bersimpati kepada orang lain atau kepada sesama kita, yaitu mereka yang merasakan nestapa dan kepapaan dalam keseharian hidup mereka.

Sulaiman Djaya

Iklan