Tag

, , ,

Saturn dan Asteroid

Oleh Sulaiman Djaya (Radar Banten, 5 Februari 2016)

Secara teologis dan intelektual (atau katakanlah dalam sudut pandang kajian teosofi sains) dalam Islam, sains dalam kaitannya dengan doktrin dan nilai serta spirit Islam tidak bisa lepas dari pandangan dan jiwa (ruh) tauhid Islam itu sendiri, yang di dalamnya juga termasuk menyangkut etika alias moralitas (akhlaq). Tentunya akan terjadi split personality pada seorang saintis muslim jika masih melihat konflik relasi agama dengan sains, atau antara iman dan akal, yang mengakibatkan agama menjadi sekuler. Nah, dalam hal demikian lah, dibutuhkan bingkai cara berpikir bahwa mengembangkan sains bagian dari tugas agama itu sendiri.

Ibn Haitham (yang di Barat dikenal dengan sebutan Al-Hazen) dan Ar-Razi, misalnya, memandang tugas sains itu sebagai tugas agama. Mengkaji alam dan merenungi semesta, sebagai contohnya, pada akhirnya juga membaca manifestasi dan kebesaran Tuhan. Sebagai contoh kasus, misalnya, jika kita melihat Iran, setidaknya ada indikasi kuat bahwa di negeri itu sains dan agama saling menghidupi satu sama lain, sebagaimana di masa-masa Islam Persia di era-era keemasan Islam kala itu. Informasi ini menjadi penting, karena biasanya kita hanya mendapat informasi tentang Iran dari sisi Revolusi Politik dan Teologi Syi’ah-nya saja, sehingga kita lupa dan khilaf untuk melihat dari sisi Sains-nya yang patut menjadi contoh bahwa menjadi muslim juga meniscayakan progress dan kemajuan secara intelektual dan saintifik.

Dalam hal ini, perlu ditegaskan pula bahwa kita melihat hal ini dari sisi holistik, di mana pengembangan sains itu menjadi bagian dari perjuangan mandiri sebagai bangsa. Penguasaan sains menjadi elemen niscaya menjadi bangsa yang mandiri. Menyangkut hal ini, kita tentu tak lupa bahwa tuntutan agama Islam itu sendiri menganjurkan masyarakatnya untuk menjadi bangsa yang mandiri, tidak hanya semata mengumandangkan semangat jihad khilafah yang justru menjelma kejahatan itu, sembari tidak memperjuangkan jihad ilmu dan sains, jihad intelektual dan kemajuan kultural.

Bagi muslim yang ingin maju, sains justru menjadi elemen penting, di mana penguasaan sains itu sendiri bagi Muslim Syi’ah Iran, sebagai contoh saja misalnya, merupakan tuntutan agama. Islam sendiri secara fitrah menuntut mengembangkan semua potensi termasuk Sains. Cara berpikir monokausal biasanya hanya melihat bahwa karena faktor kejepit-lah Iran maju, atau hanya karena faktor Revolusi, sains berkembang pesat, atau hanya melihat faktor Iran punya modal budaya sejarah Sains. Dalam hal ini mestinya kita menggunakan pola-pikir yang melihat banyak faktor kondisional. Sebagai contohnya: kertas, udara, api itu elemen-elemen penyebab kertas terbakar. Sains maju di Iran karena kombinasi faktor Revolusi, faktor “kejepit”, faktor modal sejarah Sains, faktor tersedianya infrastruktur budaya dan sosio religi, yang dalam hal ini haruslah diakui bersumber dari spirit Syi’ah Iran.

Tepat di sinilah, Sayid Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, seringkali menyampaikan pesan tentang pentingnya jihad ilmu, tidak seperti sejumlah kaum muslim yang memahami jihad hanya sebagai memerangi manusia atau memerangi non-muslim itu. Di Iran, sebagai contoh lainnya, fatwa ulama Iran tentang kloning telah menjadikan ilmu kloning berkembang pesat. Seandainya teologi masyarakat Iran tidak rasional, tentulah akan jadi penghambat kemajuan Sains.

Begitu pun, yang juga tak dapat diingkari, Fenomena Nuklir Iran yang sudah beberapa tahun ini menjadi headline berita-berita dunia, dengan sendirinya menjadi fondasi utama berbagai kemajuan para ilmuwan dalam negeri Iran. Dalam hal ini, berbagai kemajuan dan aneka prestasi Iran selama tiga dekade ini, sesekali dipamerkan juga ke dunia internasional.

Keberhasilan di bidang nuklir ini tentu juga merupakan salah satu indikator kemajuan sains di negara tersebut. Namun ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap objektif, mereka masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuwan Iran.

Tak ketinggalan pula, para saintis di bidang teknologi nano pun mengalami kemajuan pesat, sehingga teknologi yang rumit ini sekarang sudah banyak membantu menciptakan berbagai komoditas alias produk-produk tekhnologi, utamanya kesehatan. Kemudian di bidang lainnya, saintis Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuwan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca tersebut. Tak ragu lagi, prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca tersebut.

Sementara itu, prestasi lainnya di bidang kedokteran ada penciptaan obat IMOD yang berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh menghadapi virus AIDS. Sebagaimana diberitakan situs-situs sains dan kedokteran, keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Beberapa waktu silam, misalnya, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, dimana obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi.

Tak ketinggalan juga dalam bidang pertahahan dan militer, yang belakangan ini semakin digalakkan karena kebutuhan defense alias pertahanan diri, di mana Iran pun sudah menerima alokasi berbagai kreasi saintis dalam negeri Iran, dari pesawat tak berawak, kapal selam, berbagai jenis rudal, tank-tank perang, pesawat tempur, yang kesemuanya diciptakan oleh sebagian besar ilmuwan Iran. Begitu pun di bidang robotik, Iran juga tidak ketinggalan dengan Jepang dan Barat. Kemudian teknologi Roket dan Satelit juga ikut andil dalam memajukan Iran.

Mendapati perkembangan dan kreativitas saintifik yang demikian, Amerika dan kawan-kawan pun pernah merasa sangat jengkel dengan kemajuan Iran tersebut, sampai kemudian muncul sanksi PBB yang disetujui Barat, Eropa, dan mayoritas anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB (mayoritas anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB ini diduga karena ditekan Barat agar mendukung sanksi anti-Iran), yang belakangan mulai lunak. Kala itu, Iran tetap tegak dan bahkan semakin tegak, sekaligus bermartabat. Dari madrasah manakah bangsa Iran ini belajar? Tak lain dari Madrasah Karbala Imam Husain ‘alayhis-salam.

Iklan