Tag

, , ,

A young Goethe painted in 1787 by Angelika Kauffmann

(Lukisan Goethe karya Angelika Kauffman)

Oleh Sulaiman Djaya, Komite Sastra Dewan Kesenian Banten (Sumber: Radar Banten 22 Januari 2016)

“Akui! Para pujangga di Timur sana lebih hebat dari kita semua di Barat. Tapi kita sungguh setara mereka dalam membenci para sejawat. Kelamlah malam, pada Tuhan ada cahaya. Tapi mengapa kita tak dibentuk-Nya serupa. Betapa ini kaum beraneka warna, beragam jenis. Di meja Tuhan, karib dan musuh duduk semajlis. Alangkah pandir menganggap diri istimewa, mengira keyakinan sendiri benar belaka. Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri, maka dalam Islam kita semua hidup dan mati. Dengan gemilang Timur pun tiba –menyebrangi laut Mediterania. Cuma dia yang pada Hafiz mencinta –dendang Calderon akan dipahaminya” (Hikmet Nameh/Kitab Hikmah)

Perjumpaan Goethe dengan Islam terjadi di masa tua-nya, di periode kedua perjalanan kreativitas dan kepenyairannya sebagai pujangga terbesar Jerman, yang oleh James Joyce disebut sebagai salah-satu dari tiga penghuni Olympus Eropa bersama Dante Alighieri dan William Shakespeare, yaitu ketika ia berjumpa dengan karya-karya penyair sufi Persia seperti Hafiz dari Shiraz, Firdausi, Fariduddin Attar, Sa’adi, dan Jalaluddin Rumi, yang kemudian membuatnya tertarik untuk mengenal dan mempelajari Islam, hingga kemudian Goethe pun mempelajari bahasa Arab dan Persia, serta membaca riwayat Nabi Muhammad saw dan mempelajari Al-Qur’an.

Perjumpaan Goethe dengan Islam dan karya-karya penyair sufi Persia tersebut merupakan perjumpaan dan pergulatan yang intim dan bergairah, yang dapat kita baca dalam sejumlah himpunan puisinya yang bahkan menggunakan istilah dan kosakata Islam dan Persia, semisal West-Oslicher Diwan atau Diwan Barat Timur, Hikmet Nameh atau Kitab Hikmah, Moganni Nameh atau Kitab Pendendang, Hafis Nameh atau Kitab Hafiz, Tefkir Nameh atau Kitab Renungan, Rendsch Nameh atau Kitab Kegeraman, Saki Nameh atau Kitab Kedai Minuman, Mathal Nameh atau Kitab Parabel, Chuld Nameh atau Kitab Surgawi, dan yang lainnya (Lihat Seri Puisi Jerman Johann Wolfgang Von Goethe, editor Agus R Sarjono dan Berthold Damshauser, Horison 2007). Mari kita simak salah-satu puisinya yang diambil dari Mathal Nameh atau Kitab Perumpamaan berikut:

“Aku memandang, takjub dan girang, bulu merak dalam Al-Qur’an terpasang. Selamat datang di bentangan suci sang khazanah tertinggi di jagat ini. Padamu, bagai pada gemintang di langit, terdedah keagungan Tuhan dalam alit…..Dengan tawadhu boleh kubanggakan harum-mu, baru Kau patut bagi Khazanah suci sang ilmu”. Atau marilah kita simak contoh puisinya yang diambil dari Hikmet Nameh atau Kitab Hikmah berikut: “Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri, maka dalam Islam kita semua hidup dan mati…. Dengan gemilang Timur pun tiba –menyebrangi laut Mediterania. Cuma dia yang pada Hafiz mencinta –dendang Calderon akan dipahaminya”.

Contoh-contoh penggalan puisi Goethe itu saja rasanya sudah cukup untuk membuktikan keterpukauan atau keterpesonaan Goethe kepada khazanah Islam dan karya-karya puisi sufi Persia, utamanya Hafiz, dan para penyair sufi Persia lainnya semisal Firdausi, Sa’adi, Attar, Rumi dan lain-lain dalam khazanah literasi dan intelektual sufisme. Namun, tentu saja pergulatan intim Goethe dengan Islam dan puisi-puisi sufisme tersebut bukanlah sekadar “penggalian” setengah hati, tetapi merupakan pergulatan intelektual dan keintiman batin seorang pencinta dan pujangga yang memiliki komitmen tinggi pada apa yang membuatnya tertarik dan jatuh hati.

Dengan demikian, kita sudah sewajarnya percaya bahwa penyelaman dan pergulatan Johann Wolfgang Von Goethe dengan Islam dan puisi-puisi sufisme Persia (kini Iran) begitu dalam alias bukan pergulatan ala kadarnya saja, sebab sejumlah puisinya yang berkenaan dengan Islam dan para penyair sufi Persia telah menunjukkan dengan sangat gamblang dan tak mungkin diragukan lagi oleh kita: “Akui! Para pujangga di Timur sana lebih hebat dari kita semua di Barat. Tapi kita sungguh setara mereka dalam membenci para sejawat. Kelamlah malam, pada Tuhan ada cahaya. Tapi mengapa kita tak dibentuk-Nya serupa. Betapa ini kaum beraneka warna, beragam jenis. Di meja Tuhan, karib dan musuh duduk semajlis. Alangkah pandir menganggap diri istimewa, mengira keyakinan sendiri benar belaka. Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri, maka dalam Islam kita semua hidup dan mati. Dengan gemilang Timur pun tiba –menyebrangi laut Mediterania. Cuma dia yang pada Hafiz mencinta –dendang Calderon akan dipahaminya” (Hikmet Nameh/Kitab Hikmah).

Puisi Goethe tersebut mewartakan kepada kita tentang khazanah emas sufisme (khususnya puisi-puisi Hafiz yang menjadi penyair sufi favoritnya) dan khazanah Islam umumnya. Membaca puisi tersebut membuat kita tak memiliki celah untuk meragukan keintiman Goethe sebagai pencinta sastra Persia dan khazanah sufisme Islam yang tulus dan total. Ia bahkan dengan jujur dan lantang mengagungkan Al-Qur’an, kitab suci ummat Islam: “Aku memandang, takjub dan girang, bulu merak dalam al Qur’an terpasang. Selamat datang di bentangan suci sang khazanah tertinggi di jagat ini. Padamu, bagai pada gemintang di langit, terdedah keagungan Tuhan dalam alit….Dengan tawadhu boleh kubanggakan harum-mu, baru Kau patut bagi Khazanah suci sang ilmu” (Mathal Nameh/Kitab Parabel).

Dengan kejujuran dan kelantangan yang sama, ia pun mengagungkan Nabi Muhammad saw, semisal dinyatakan lewat puisinya berikut ini: “Jika ada yang murka karena Tuhan berkenan, berkati Muhammad kebahagiaan dan lindungan”. Dan sejauh menyangkut kecintaannya yang intim pada khazanah literer dan sastra sufisme Persia, ia menjadikan Hafiz sebagai idola utamanya (dan bahkan guru-nya atau mursyidnya sekaligus sebagai “sparring partner”-nya), sebagaimana ia nyatakan melalui puisinya yang berjudul “Tak Berbatas” dalam Sub-Diwannya yang ia beri tajuk Hafis Nameh atau Kitab Hafiz itu:

“Bahwa kau tak bisa usai, kau gemilang. Bahwa kau tak juga mulai, itu nasibmu. Lagumu berulang bagai kubah gemintang, awal dan akhir senantiasa sama. Dan yang di tengah pun ternyata sama belaka dengan akhir dan mula. Kau sumber sukacita pujangga sejati, darimu ombak tak henti-henti. Kau-lah mulut yang siap bercium, dendang di dada merdu mengalir. Tenggorok tergiur untuk meminum, jiwa meluap luhur membanjir. Biar dunia runtuh lintang-pukang, wahai Hafiz, hanya dengan kau seorang ingin aku bertanding. Nikmat dan siksa bagi sang kembar, kita berdua! Bercinta bagai kau, minum bagai kau, menjadi hidupku menjadi marwahku”.

Contoh puisi-puisi Goethe tersebut tak diragukan lagi merupakan pengakuan yang jujur dan gamblang, sebuah testimoni yang blak-blakkan dan lantang yang membuat banyak pihak “mengganggapnya” sebagai figur besar dan teladan Eropa yang telah konversi ke agama Islam karena suara-suara puisi-puisinya memang membuat sejumlah orang dan beberapa pihak mengambil kesimpulan demikian, meski kita tak dapat memastikannya. Bagi kita, nilai dan spirit penting Goethe sendiri berkenaan dengan minat dan keintimannya pada Islam dan sastra sufisme Persia itu terletak pada jasanya untuk menjadi jembatan “Timur” dan “Barat” untuk saling memahami satu sama lain dan tidak saling merendahkan:

“Yang kenal diri juga sang lain, di sini pun kan menyadari: Timur dan Barat berpilin, tak terceraikan lagi. Arif berayun penuh manfaat di antara dunia. Melanglang Timur dan Barat, mencapai hikmah mulia” (West-Ostlicher Diwan/ Diwan Timur dan Barat). Juga puisinya berikut ini: “Akui! Para pujangga di Timur sana lebih hebat dari kita semua di Barat. Tapi kita sungguh setara mereka dalam membenci para sejawat” (Hikmet Nameh/Kitab Hikmah). Rasa-rasanya, di tengah konflik dan kecurigaan antara kutub blok Timur dan blok Barat saat ini, kita perlu merenungkan puisi Goethe tersebut agar kita tidak lagi “membenci para sejawat”.

Iklan