Membaca Kembali ‘Banten’

Tag

, , , , , ,

Brenda Theresa

oleh Sulaiman Djaya (Radar Banten, 15 April 2016)

Untuk melihat sebuah masyarakat, geliat dan kemajuannya, kita dapat mengkajinya dari sudut sejarah atau kebudayaan, yang dengan sendirinya dengan dua sudut pandang itu akan tersertakan dan terkaji juga aspek sosial, budaya, kreativitas saintifik, kemajuan ilmu pengetahuan dan politiknya.

Terkait dengan sejarah, pandangan Ayatullah Murtadha Muthahhari, tentang apa dan bagaimana sejarah itu harus dipahami dan dijadikan sebagai perspektif dan khazanah untuk membaca dan menganalisa masyarakat atau bangsa, cukup menarik dan jenius, karena Muthahhari memandang sejarah dengan memasukkan geliat budaya, sosial, faktor ilmu pengetahuan, kemajuan saintifik dan politik sebuah masyarakat atau bangsa.

Ayatullah Murtadha Muthahhari pun menegaskan bahwa ‘sejarah’ hanya berlaku bagi manusia, bukan binatang, karena hanya manusia-lah yang sanggup membangun peradaban, mengembangkan bahasa, sains dan ilmu pengetahuan mereka. Sementara binatang hanya bertahan hidup berdasarkan insting belaka, yang karena itulah manusia, dalam bahasa Arab, disebut juga ‘Al-hayawan an naathiq’ (binatang yang sanggup berpikir dan berbahasa).

Pandangan dan filsafat sejarah dan kebudayaan Ayatullah Murtadha Muthahhari itu cukup relevan dan menarik untuk ‘melihat’, mengkaji, dan ‘membaca’ kesejarahan dan aspek-aspek kultural, sosial dan politik Banten saat ini, sembari kita ‘mengkomparasinya’ dengan ‘realitas’ perjalanan kesejarahan Banten di masa silam: apakah Banten, secara kesejarahan, mengalami kemajuan atau sebaliknya? Apakah Banten secara kultural dan politik telah mengalami pencerahan atau belum beranjak dari kejumudan menuju progress yang diharapkan? Apakah secara sosial dan politik, Banten telah dapat dikatakan sebagai masyarakat yang maju atau belum?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus diajukan jika kita ingin mengkaji dan membaca Banten saat ini dan ke depan, di mana pertanyaan-pertanyaan tersebut dimaksudkan dalam rangka menemukan visi saat ini dan ke depan.

Dalam perspektif filsafat sejarah Ayatullah Murtadha Muthahhari itu, sebagai contohnya, bangsa atau masyarakat yang akan survive dan maju adalah bangsa yang memiliki visi dan ideologi yang menjadi landasan kokoh politik dan kulturalnya dan orientasi bagi tindakan dan kebijakan-kebijakannya.

Pertanyaannya adalah: apakah Banten, lebih tepatnya para pemimpin di Banten, memiliki ‘visi’ dan tak hanya melakukan rutinitas pragmatisme politik dan birokratis setelah mereka memenangkan suksesi? Pertanyaan itu sangat penting untuk konteks saat ini dan ke depan, jika Banten ingin berkembang, maju dan mengalami progress secara kultural, intelektual, saintifik, ekonomi, dan politik, sebagaimana yang di-idealkan filsafat sejarahnya Ayatullah Murtadha Muthahhari tentang bangsa atau masyarakat yang akan mampu ‘menjadi pencipta’ sejarah dan pembangun peradaban.

Dalam rangka melihat kembali Banten dengan perspektif filsafat sejarah dan perspektif kebudayaan ini, penting juga membaca Banten dari sudut historis-antropologis (yang tentu saja sebagai analisa dan perspektif penguat ketika kita melihat dan membaca Banten dari perspektif filsafat sejarah dan sudut pandang kebudayaan) itu.

Terkait dengan itu, perlu juga ditegaskan bahwa kebudayaan bukanlah semata entitas dan unsur sampingan, tapi merupakan “pembentuk” siapa dan “apa” masyarakat itu sendiri. Hingga dapatlah dikatakan, masyarakat dan bangsa yang tidak memiliki sastra, seni, dan budaya adalah masyarakat dan bangsa yang tak memiliki jiwa.

Bersamaan dengan itu, ada banyak definisi dan pengertian kebudayaan, yang dengan beberapa definisi dan pengertian tersebut, setidak-tidaknya kita akan dapat mengidentifikasi segala produk dan jenis kebudayaan itu sendiri. Contoh definisi dan pengertian kebudayaan itu, misalnya, mengatakan kebudayaan merupakan suatu “proses” perkembangan yang sifatnya intelektual, estetis, dan bahkan spiritual.

Sementara itu, secara etnografis dan antropologis, kebudayaan dapat dipahami sebagai pandangan hidup dari suatu masyarakat tertentu. Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa kebudayaan adalah juga karya dan praktik-praktik intelektual yang sifatnya literer dan artistik.

Meskipun demikian, kebudayaan itu sendiri bila kita memahaminya sebagai sebuah proses dan kreativitas, bisa menjadi berkembang, bertahan, atau hilang ketika berhadapan dengan situasi baru atau perkembangan jaman, di mana kemajuan tekhnologi dan percepatan ekonomi kapitalisme saat ini, sebagai contohnya, telah menggantikan dan menggusur praktik-praktik dan bahkan norma-norma yang pernah dianut dan dipercayai oleh masyarakat. Jika demikian, maka apa yang akan kita sebut kebudayaan sebenarnya juga tidak dapat dilepaskan sebagai medan atau arena pertarungan kreativitas dan perkembangan intelektual itu sendiri.

Seperti telah sama-sama kita tahu, banyak sekali bentuk-bentuk dan jenis-jenis kebudayaan masyarakat yang pernah ada, saat ini telah hilang, atau tak lagi dipercayai dan dipraktikkan oleh masyarakat yang pernah mempercayainya, mempraktikkannya, dan memproduksinya karena faktor pergesekan dan pertarungan dengan perkembangan politis, ekonomis, dan sosiologis masyarakat sekarang yang harus diakui mengalami gempuran setiap hari, yang seakan tanpa jeda, dari hiruk-pikuk apa yang lazim disebut sebagai jaman kapitalisme mutakhir saat ini.

Akan tetapi, beberapa waktu belakangan ini, yang oleh beberapa pemikir dan pemerhati kebudayaan mengganggapnya merupakan bentuk encounter dan arah-balik pencaharian dahaga spiritual akibat kejenuhan, untuk tidak mengatakan sebagai kekeringan spiritual, masyarakat modern, yang bersama-sama gerakan ekologis, berusaha menggali dan menghidupkan kembali kearifan-kearifan lokal, yang sebagiannya masih ada di saat kebanyakannya sebenarnya telah menghilang alias tak lagi dipercaya, dipraktikkan atau pun diproduksi. Tak terkecuali untuk kasus Banten, yang secara historis merupakan tempat hidupnya sejumlah kebudayaan kuno yang pernah ada.

Sebagai kompleks wawasan, praktik, dan produk intelektual, E.B. Taylor, misalnya, mendefinisikan kebudayaan sebagai kesuluruhan pengetahuan, seni, hukum, adat-istiadat, norma keyakinan, dan juga kebiasaan atau custom yang hidup, ada, dianut, dan dipraktikan oleh suatu masyarakat atau komunitas kebudayaan.

Tidak jauh berbeda dengan artian kebudayaan yang dikemukakan E.B. Taylor tersebut, para pemikir dan penulis Cultural Studies, semisal Raymond Williams dan Chris Barker, untuk menyebut dua contoh lainnya, memandang dan memahami kebudayaan sebagai sesuatu atau hal-hal yang dihidupi, sejenis living culture, dalam kehidupan sehari-hari alias keseharian masyarakat itu sendiri.

Meskipun Raymond Williams dan Chris Barker dikenal sebagai pemikir dan penulis Cultural Studies, namun definisi kebudayaan yang mereka ajukan tersebut masih tergolong arti kebudayaan dalam ranah dan pengertian antropologis seperti yang dikemukakan E.B. Taylor. Di mana kebudayaan merupakan kompleks wawasan dan praktik yang di dalamnya juga mencakup produk-produk benda atau materi, norma, dan simbol-simbol yang ada dan dihidupi oleh sebuah atau suatu masyarakat.

Selain definisi dan identifikasi kebudayaan seperti yang telah dikemukakan E.B. Taylor, Raymond Williams, dan Chris Barker yang berwawasan sosiologis dan antropologis itu, hal lain yang juga penting untuk mengidentifikasi kebudayaan Banten adalah sejarah, dan juga arkeologi budaya, Banten itu sendiri.

Dari sudut pandang dan pendekatan historis yang sifatnya kronik ini, contohnya, kita dapat melacak lahir, tumbuh, dan keberadaan kebudayaan Banten dalam perjalanan sejarah masyarakat Banten, seperti kebudayaan yang berkaitan dengan aspek sejarah keagamaan yang di dalamnya mencakup ritual, peninggalan benda-benda keagamaan dan arsitektur, sebagai contohnya, dari mulai pra-sejarah Banten, era Hindu-Budha, hingga datangnya Islam.

Jika kebudayaan memang sekompleks wawasan dan kepercayaan yang koheren seperti yang dikemukakan E.B. Taylor itu, maka dapatlah dikatakan beberapa kesenian masyarakat Banten lahir dan berkembang bersama-sama dengan wawasan religius dan atau praktik-praktik dan kepercayaan keagamaan yang dianut masyarakat Banten, dari semenjak era pra-Islam hingga ketika Banten menganut agama Islam.

Rupa-rupanya, bila kita mencermati kebudayaan dari segi tilikan historis dan yang sifatnya kronik ini, kebudayaan Banten sedikit-banyaknya memang lahir, berkembang, dipraktikkan, dan “didasarkan” pada wawasan keagamaan, selain karena memang lahir dan bersumber dari kearifan-kearifan lokal-asli masyarakat Banten.

Di sinilah, jika kebudayaan juga dipahami sebagai kreativitas, kebudayaan masyarakat Banten dapat dikatakan sebagai bertemu dan berpadunya “kebudayaan lokal” masyarakat Banten itu sendiri dengan pengaruh-pengaruh wawasan keagamaan yang kemudian datang dan memperkaya alias melengkapinya, jika tidak dibilang turut juga merubah bentuk dan makna kebudayaan masyarakat Banten itu sendiri.

Secara historis pula, Banten bahkan bisa dikatakan sebagai “Negeri Terminal Sejarah Interaksi” sejumlah jenis, bentuk atau ragam kebudayaan dan keagamaan, bila kita meminjam istilahnya Denys Lombard dan Henri Chambert-Loir. Di mana dalam sejarahnya yang panjang, Banten memang telah menjadi semacam “jalur persinggahan” alias Carrefour beragam pengaruh keagamaan dan kebudayaan dalam skala sejarah Nusantara, ketika pengaruh kebudayaan India, Cina, dan kemudian Islam kemudian hadir dan bertemu, entah kemudian saling-melengkapi atau mengalami “kontestasi”.

Dalam hal ini, bukti yang paling nyata adalah sejumlah peninggalan benda dan arsitektur Kesultanan Banten, yang mencerminkan bentuk dan ekspressi simbolik yang sifatnya multikultur alias “ragam jejak kebudayaan”, semisal era pra-Islam, Cina, dan Eropa.

Tak hanya dalam arsitektur dan benda-benda, sejumlah kesenian tradisional dan kesenian keagamaan masyarakat Banten juga menunjukkan jejak-pengaruh ragam-budaya tersebut, entah kemudian saling-melengkapi atau mengalami “kontestasi”, yang pastilah mencerminkan kreativitas kebudayaan masyarakat Banten itu sendiri.

Secara historis, sebagaimana yang dikemukakan banyak sejarawan dan arkeolog, Banten adalah “negeri” dan “masyarakat” yang tua, yang memiliki sejarah yang panjang, yang pastilah juga menyangkut kebudayaannya, bila kebudayaan lahir, ada, dan berkembangnya sebuah kebudayaan juga dipahami sebagai “interaksi historis-kultural” seperti yang dikatakan Denys Lombard dan Henri Chambert-Loir itu.

Di Banten, sebagaimana dikemukakan para sejarawan dan arkeolog, “yang Sunda”, “yang Jawa”, dan “yang Melayu” bertemu dan berpadu, yang kemudian membentuk sejarah, identitas, dan budaya Banten itu sendiri. Hingga apa yang kita sebut Banten, demikian ujar Claude Guillot, adalah ketiganya sekaligus. Meskipun tentu saja, secara historis pula, tentulah masih dapat dilacak dan dikaji unsur-unsur lokal Banten sebelum Islam menjadi wawasan dan lanskap dominan kepercayaan dan juga “wawasan kebudayaan” masyarakat Banten, yang dalam sejarahnya memang telah mengalami pembauran alias akulturasi yang saling melengkapi dan memperkaya antara warisan “lokal pra-Islam” dengan unsur-unsur Islam, semisal dalam seni tradisi, adat, kesusastraan, arsitektur, dan yang lainnya yang banyak jumlahnya.

Seperti telah kita lihat dengan contoh-contoh yang disebutkan itu, ada suatu masa dan jaman ketika Banten membangun ‘sejarah’ dan menjadi pemain dominan dalam sejarah secara politik dan ekonomi, dan pada saat bersamaan memiliki dan mengembangkan produk-produk kebudayaan dan intelektualnya, seni dan kearifannya. Pertanyaannya adalah: ‘Bagaimana dengan Banten saat ini dan kedepan?”

Catatan Kudeta Indonesia

Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

oleh Sulaiman Djaya (Radar Banten, 28 Maret 2016)

“Dunia sudah hampir seluruhnya terkotak-kotak, dan yang tersisa sudah terbagi-bagi, dikuasai, dan diduduki. Membuatku berpikir mengenai bintang-bintang yang kulihat di langit malam, dunia-dunia luas yang tak terjamah. Aku akan mencaplok planet-planet itu kalau bisa, aku seringkali berpikir mengenainya. Hatiku sedih melihat mereka, tapi begitu jauh tak terjangkau” (Cecil Rhodes, Last Will and Testament 1902).

Setelah menerbitkan buku “Confessions of an Economic Hitman” (2004), John Perkins mendapat banyak kunjungan dari berbagai lapisan masyarakat, dan mereka kebanyakan meminta agar Perkins melanjutkan bukunya dengan berbagai keterangan yang jauh lebih jujur dan berani. Salah satunya—seperti yang ditulis John Perkins dalam pengantar “Pengakuan Bandit Ekonomi: Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia & Negara Dunia Ketiga” (2007)—meminta dirinya agar memaparkan arti kata “Imperium” dengan sederhana, agar banyak orang terbuka kesadarannya.

Atas permintaan tersebut, John Perkins pun menulis bahwa Imperium adalah negara-bangsa (atau bisa juga korporatokrasi dan oligarkhi kaum korporat) yang mendominasi negara-bangsa lainnya dan menunjukkan satu atau lebih ciri-ciri berikut: (1) Mengeksploitasi sumber daya dari negara yang didominasi, (2) Menguras sumber daya dalam jumlah yang tidak sebanding dengan jumlah penduduknya jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, (3) Memiliki angkatan militer yang besar untuk menegakkan kebijakannya ketika upaya halus gagal, (4) Menyebarkan bahasa, sastra, seni, dan berbagai aspek budayanya ke seluruh tempat yang berada di bawah pengaruhnya, (5) Menarik pajak bukan hanya dari warganya sendiri, tapi juga dari orang-orang di negara lain, dan (6) Mendorong penggunaan mata uangnya sendiri di negara-negara yang berada di bawah kendalinya.

John Perkins melanjutkan, “Semua ciri imperium global itu ada pada Amerika.” Dengan kata lain, Amerika adalah Imperium Global di masa sekarang, sebagaimana kata ONE dalam One Dollar itu sendiri dapat diplesetkan sebagai Ordo Novus Empirium alias Ordo Imperialisme Baru. Sebagai mantan tim perusak ekonomi, yang diistilahkannya sendiri sebagai “The Economic Hit Men”, John Perkins memang berani mengungkapkan kesaksiannya, meski dengan resiko ia dipecat dari pekerjaannya, jika dewasa ini negara-negara dunia ketiga, alias negara terkebelakang, merupakan jajahan Imperium Amerika, termasuk Indonesia.

Dalam hal ini, jika penguasanya disebut “Empire” atau “Emperor”, maka sistem yang berlaku adalah Imperialisme. Di sini, menurut definisi Wikipedia, sebagai tambahan, Imperialisme ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh, imperialisme terjadi saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah yang mereka taklukkan.

Sedangkan perkataan Imperialisme itu sendiri muncul pertama kali di Inggris pada akhir abad XIX. Disraeli, Perdana Menteri Inggris, menciptakan politik ekspansif yang bernafsu meluaskan pengaruh kerajaan Inggris hingga ke seluruh dunia. Namun Disraeli mendapat tentangan. Golongan oposisi ini takut kalau-kalau politik Disraeli itu akan menimbulkan beragai krisis internasional. Kaum oposisi ini disebut golongan “Little England” dan golongan Disraeli (bersama Joseph Chamberlain dan Cecil Rhodes) disebut golongan “Empire” atau golongan “Imperialisme”. Timbulnya perkataan imperialis atau imperialisme, mula-mula hanya untuk membeda-bedakan golongan Disraeli dari golongan oposisinya, namun dalam perkembangannya istilah ini meluas hingga seperti yang dikenal sekarang ini.

IMPERARE SEBAGAI MUASAL ISTILAH
Penting diketahui, istilah imperialisme berasal dari kata Latin “imperare” yang artinya “memerintah”. Hak untuk memerintah (imperare) ini disebut “imperium”. Sedangkan orang yang diberi hak itu (diberi imperium) disebut “imperator”. Yang lazimnya diberi imperium itu ialah raja, dan karena itu lambat-laun raja disebut imperator dan kerajaannya (daerah dimana imperiumnya berlaku) disebut imperium.

Nah, pada zaman dahulu kebesaran seorang raja diukur menurut luas daerahnya atau cakupan wilayah yang berada dalam pengaruh dan perintah politik dan kebijakan ekonominya, maka raja suatu negara ingin selalu memperluas kerajaannya dengan merebut negara-negara lain. Tindakan raja yang seperti inilah yang disebut imperialisme oleh orang-orang sekarang, dan kemudian ditambah dengan pengertian-pengertian lain hingga perkataan imperialisme mendapat arti-kata yang kita kenal saat ini.

Dulu, tindakan untuk menguasai suatu wilayah kerajaan selalu menggunakan senjata api atau peperangan. Namun sekarang tidak selalu. Sekarang, penguasaan bisa dilakukan dengan kekuatan ekonomi, kultur, pendidikan, dan ideologi. Dan tentu saja, perang sebagai alat terakhir seperti yang menimpa Irak dan Suriah saat ini, ketika Amerika, Ingris, Israel, Rezim Saud, Turki, Perancis dkk menggunakan ISIS dan kelompok-kelompok pemberontak Suriah untuk membuat kekacauan dan konflik di kawasan tersebut.

DAVID RANSOM DAN MAFIA BERKELEY
Sementara itu, di tahun 70-an, muncul tulisan “Berkeley Mafia and Indonesian Massacre”, di mana yang dimaksud pembunuhan massal ini adalah pembantaian ratusan ribuan (bahkan konon jutaan) anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) dan mereka (penduduk sipil) yang dicurigai merupakan simpatisan PKI. Dalam tulisan tersebut juga ada beberapa hal yang diungkapkan oleh David Ransom, yang antara lain “Kronologi penggulingan Soekarno”, yang tidak lain adalah campur tangan Amerika melalui jaringan-jaringan terselubungnya (covert action CIA).

Ini berawal saat munculnya pengakuan kemerdekaan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1950, pengakuan tersebut ternyata mensyaratkan Indonesia untuk menanggung beban utang luar negeri yang dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda. Alhasil, sejak tahun 1950 bangsa Indonesia mewarisi utang Hindia Belanda sebesar US$ 4 Milliar. Dan dengan adanya hutang tersebut, pemerintahan Soekarno tidak bisa lepas dari tekanan pihak pemberi hutang (baca Amerika).

Tekanan tersebut antara lain adalah adanya intervensi saat periode 1950-1956. Yakni saat adanya tekanan dari Amerika Serikat bahwa Indonesia harus mengakui keberadaan pemerintahan Bao Dai di Vietnam. Klimaksnya adalah saat terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia tahun 1964. Di mana ketika itu Malaysia didukung oleh Inggris. Pemerintahan Soekarno yang saat itu geram, lantas menasionalisasi seluruh perusahaan Inggris di Indonesia. Hal tersebut adalah kali kedua pemerintahan Soekarno melakukan nasionalisasi setelah menasionalisasikan perusahaan milik Belanda tahun 1956.

Rupanya, Amerika turut campur dengan masalah tersebut. Pemerintahan Amerika menuntut bahwa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia harus segera diakhiri. Hal tersebut yang lantas menyulut kemarahan Soekarno hingga mengatakan “go to hell with your aid”. Penolakan keras tersebutlah yang membuatnya harus menyerahkan tangkup kepemimpinan Negara pada Soeharto, tepat pada tanggal 11 Maret 1966. Kebijakan politik Amerika dengan misi anti-komunisnya ini telah menjerat bangsa-bangsa dan negeri-negeri lain untuk masuk ke dalam strategi globalnya (liberalisasi dan kapitalisasi yang menguntungkan Amerika).

Langkah-langkah yang dilakukan oleh badan intelijen Amerika Serikat (CIA) telah menyusupi hampir semua badan, lembaga, kekuatan sosial-politik, dan oknum-oknum penting untuk kemudian diperalat oleh Amerika.

Yayasan-yayasan yang menyediakan dana-dana bantuan pendidikan semacam Ford Foundation dan Rockefeller Foundation, yang disamping sering memberi bantuan-bantuan perlengkapan, tenaga-tenaga ahli, juga membiayai pengiriman mahasiswa-mahasiswa di luar negeri adalah merupakan alat, pangkalan (sarang) dan kedok CIA untuk melancarkan operasi-operasinya ke berbagai penjuru dunia. Perguruan-perguruan tinggi semacam Berkeley, Cornell, MIT (Massachusetts Institute of Technology), Havard dan lain-lain telah dijadikan sarang dan dapur CIA untuk mencekokkan ilmu-ilmu liberal (ideologi Amerika) dan meng-amerika-kan para mahasiswa yang datang dari berbagai negeri, serta menggemblengnya menjadi agen dan kaki tangan Amerika (CIA) yang setia.

Kita tahu, dalam liberalisme, yang telah lebih dulu memiliki modal kuat lah yang menguasai arena pasar politik dan ekonomi global melalui korporasi dan MNC-MNC mereka yang mengeruk kekayaan negara lain, contohnya Indonesia.

Bahwa banyak badan-badan pendidikan dan perikemanusiaan sekedar dijadikan kedok semata-mata untuk kepentingan Amerika. Tulisan itu juga menjelaskan mengapa Soekarno mesti digulingkan dan nasionalisme yang dibawanya mesti dihancurkan. Juga, bagaimana kaum Sosialis Kanan/PSI telah berpuluh tahun mengadakan persekongkolan dengan CIA untuk merebut kekuasaan di Indonesia ini dari tangan Soekarno. Bagaimana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta telah dijadikan dapur dan sarang komplotan PSI-CIA dan untuk dari sana pula-lah melancarkan gerilya politik dan subversinya kemana-mana.

Bagaimana bantuan-bantuan ahli dari Amerika seperti Guy Parker, George Kahin, John Howard, Harris, Glassburner, dan kaum Sosialis Kanan/PSI seperti Soemitro Djojohadikusumo, Widjojo Nitisastro, M. Sadli, Emil Salim, Subroto, Barli Halim, dan Soedjatmoko yang populer sebagai kaum teknokrat-ekonom dan berhasil menduduki posisi-posisi penting dalam lembaga-lembaga pemerintahan puncak itu, telah lama “mengadakan permainan bersama yang lihai” bersama dengan kepentingan Amerika.

Singkatnya, tulisan David Ransom itu memberi informasi tentang bagaimana CIA ikut meng-create (menciptakan) Rezim Orde Baru Soeharto demi menggusur Soekarno yang menurut Amerika berbahaya bagi kepentingan (imperialis) Amerika.

Natalia Poklonskaya and Sulaiman Djaya