Cornelis de Houtman at the Port of Karangantu in 1596 by LW van Boekhoven

Radar Banten, 15 Mei 2012

Secara historis atau pun sosiologis, konstruksi tataruang dan fungsi-fungsi bangunan peninggalan kota-kota lama atau ibukota-ibukota di masa silam, sebagaimana dikatakan para sejarawan dan arkeolog, semisal Denys Lombard, Henri Chambert-Loir dan Daniel Perret, mencerminkan wawasan-budaya pendirian dan para pendirinya. Begitu juga, baik secara langsung maupun tidak langsung, peninggalan bangunan atau arsitektur kota-kota masa silam adalah juga “rekaman” alias jejak berbagai peristiwa yang sifatnya ideologis (semisal keagamaan), politik, kebudayaan (semisal kontak antar etnis atau ras), serta aspek-aspek pertimbangan keamanan dan pertahanan sebuah kota, semisal kota-kota berbenteng di Nusantara.

Jika bangunan peninggalan Kota Lama Banten dilihat dari sudut pandang arsitektur, maka kita akan mendapati banyak ragam jejak dan pengaruh dari “kebudayaan atau wawasan luar”, semisal budaya Cina, Arab, dan Eropa, selain pengaruh lokal Nusantara sendiri, semisal Bali dan Jawa, di mana jejak ragam pengaruh tersebut dapat dilihat pada ekspresi seni, lambang status dan kenyamanan penghuninya pada masa itu. Setidak-tidaknya, pembauran atau pun akulturasi budaya dalam bangunan-bangunan kota atau ibukota Kesultanan Banten yang telah disebutkan tersebut akan terlihat dengan jelas pada bangunan–bangunan seperti Keraton, Mesjid, Menara, Jembatan Rante, Benteng, Pelabuhan, Klenteng, Waduk Buatan atau Tasikardi yang terkenal itu, tekhnologi irigasi, dan lain sebagainya.

Keraton Kaibon

Komplek Keraton Kaibon atau Kaibuan ini terletak di Kampung Kroya, yang pada tahun 1832, Keraton Kaibon ini dibongkar dan diporakporandakan oleh pemerintah Hindia Belanda, di mana di tahun yang sama Belanda pun membumihanguskan Surosowan, hingga membuat Keraton Kaibon ini hanya tinggal fondasi, tembok dan gapuranya saja, yang bila dikaji secara mendalam akan tampaklah jejak kemegahan arsitektural dan ketinggian artistiknya.

Keraton ini mempunyai sebuah pintu besar yang dinamai “pintu dalam”. Di pintu gerbang sebelah barat terdapat tembok, pada tembok tersebut terdapat lima pintu bergaya Jawa dan Bali yang lazim dikenal sebagaiPadureksa dan Bentar.

Bila dibandingkan dengan arsitektur Keraton Surosowan, maka Keraton Kaibon ini nampak lebih “archaik”dan lebih kaya secara artistik dan simbolik. Terutama sekali bila dilihat dari rancang-bangun pintu dan tembok keraton. Seperti telah disebutkan, untuk menuju keraton ini terdapat empat buah pintu Bentar. Begitu pula halnya dengan jenis pintu gerbang yang menuju pintu bagian keraton, yaitu gerbang Padureksa. Dalam konsep arsitektur Hindu, pembedaan jenis pintu, yang lazim dikenal sebagai Bentar dan Padureksa mengacu pada jenis dan fungsi bangunan yang sifatnya sakral atau profane dalam hal penyimbolan dan pemaknaannya.

Keraton Surosowan

Seperti juga Keraton Kaibon, seperti yang telah disebutkan, komplek Keraton ini sekarang sudah hancur akibat serangan pasukan Daendels, sehingga yang masih ada saat ini hanyalah tembok benteng yang mengelilingi sisa-sisa bangunan berupa fondasi dan tembok-tembok dinding yang sudah hancur, juga sisa-sisa bangunan pemandian“Rara Denok” dan bekas sebuah kolam taman dengan bangunan “Bale Kambang”, yang akan mengingatkan kita pada kota dan taman Majapahit.

Tembok benteng masih nampak setinggi 0,5 – 2 meter dengan lebar sekitar 5 meter. Pada beberapa bagian, terutama di bagian selatan dan timur tembok benteng ini bahkan sudah hancur dan hampir tak menyisakan artefak dan jejak arkeologis yang berarti. Komplek Keraton Surosowan ini berbentuk segi empat sama panjang, dengan luas kurang lebih tiga hektar, yang agaknya mirip dengan bentuk “kolam segaran”-nya Majapahit. Pintu masuk atau pintu gerbang berada di sisi utara menghadap ke alun-alun dan di sisi timur berdasarkan peta dan gambar lama. Pada keempat sudut benteng, kita akan mendapati bagian tembok yang menebal yang menjorok keluar (aliasbastion), sedangkan di bagian sisi sebelah dalam benteng pada keempat sudutnya terdapat pintu-pintu masuk menuju ruangan yang ada dalam tembok benteng. Dilihat dari gambar dan peta lama diketahui pula bahwa komplek ini dahulunya dikelilingi oleh parit yang digunakan sebagai pertahanan, meski sekarang parit ini sebagian telah hilang, dan yang masih ada terletak di sebelah bagian selatan dan barat benteng.

Keberadaan parit tersebut akan segera mengingatkan kita pada bentuk dan system pertahanan Ibukota Kerajaan Sunda di Banten Girang, setelah dilakukan kajian arkeologis selama empat tahun oleh para arkeolog dan sejarawan Perancis dan Indonesia sejak tahun 1988-1992 itu.

Klenteng China Bio Hud Couw

Klenteng Cina ini terletak di sebelah Barat bangunan Benteng Speelwijk yang berjarak puluhan meter saja karena memang dipisahkan oleh sebuah parit. Sementara itu, menurut catatan Valentijn (1725), sang pengunjung dan penulis tentang kota Banten yang masyhur itu, klenteng ini berlokasi di sebelah selatan Menara Mesjid Agung Banten. Meski klenteng ini sudah berusia hampir 600 tahun, klenteng ini masih tetap memiliki ciri khas tersendiri, sama seperti bangunan-bangunan bersejarah lainnya di lingkungan Kesultanan Banten.

Untungnya, bangunan klenteng ini amat terpelihara dengan baik dan masih berfungsi sebagai tempat peribadatan para pemeluk agama Budha, yang kadangkala juga datang dari luar Banten.

Komplek Masjid Agung Banten

Dan akhirnya kita sampai pada warisan arsitektural yang mungkin paling tetap populer hingga saat ini, Mesjid Agung Banten. Komplek Masjid Agung Banten ini terdiri dari bangunan masjid dengan serambi pemakaman dari kiri ke kanan, Bangunan tiyamah, menara dan tempat pemakaman di halaman sisi utara.

Sedangkan bangunan induk masjid ini berdenah segi empat, dan atapnya merupakan atap bersusun lima. Sementara dari kiri dan kanan bangunan ini terdapat masing-masing serambi. Lima undakan atap Mesjid Agung Banten ini, bila dilihat dengan seksama, adalah undakan-undakan yang sudah ada di era Pra-Islam, semisal Pagodadan Pura. Di mana undakan-undakan bersusun lima itu juga menjadi ciri pintu gerbang-pintu gerbang di bangunan-bangunan kota atau ibukota Kesultanan Banten yang mendapatkan pemaknaan baru ketika Islam dianut masyarakat Banten. Ciri dan bentuk arsitektur tersebut juga masih dipakai dan diterapkan di sejumlah bangunan pemerintahan Banten saat ini, bahkan di tempat-tempat yang jauh dari perkotaan.

Singkatnya, bentuk dan gaya arsitektur gedung dan bangunan Kesultanan Banten, baik yang masih utuh atau pun yang tinggal reruntuhan karena perang, bila kita perhatikan secara seksama, bak sejumlah jejak ragam kebudayaan yang membuat kota masa silam Kesultanan Banten itu telah menjelmakan dirinya sebagai miniatur budaya dan sejarah Nusantara itu sendiri. (Sulaiman Djaya)

Iklan