Anthony_Dawton_Girl_in_the_Middle_of_her_House_Gaza_City__940

Radar Banten, 14 Juli 2014

Isu Palestina dan Israel, tak dapat diingkari, memang pelik dan tak kunjung usai. Tak lain karena isu ini seringkali menyulut konflik dan kebencian, singkatnya: perang dan pertumpahan darah, selain juga turut melibatkan tenaga dan pikiran Negara-negara lain di dunia ini. Juga, haruslah diakui, Negara Israel saat ini adalah buah dari perjuangan ideologi yang disebut sebagai “Zionisme”. Sukses Zionisme adalah buah persekutuan, lebih tepat disebut sebagai perselingkuhan, antara kaum Zionisme Yahudi dengan imperialisme Barat. Namun di sini perlu ditekankan bahwa Zionisme sesungguhnya adalah ideologi sekular, meski seringkali menggunakan klaim religius, yang secara kebetulan memang sangat dramatis dan sukses mencapai tujuannya pada abad ke-20.

Zionisme Versus Judaisme

Tambahan lagi, sebagaimana ditegaskan Yakov Rabkin, Judaisme dan Zionisme adalah dua hal yang saling bertentangan. Bahkan menurutnya Zionisme telah mencemari dan merusak jantung teologi Judaisme itu sendiri. Bagi Yakov Rabkin, Zionisme tak ubahnya separatisme yang mengatasnamakan Yahudi, namun kenyataannya malah menodai spirit Judaisme. Yakov Rabkin menyatakan, “Ancaman Zionislah yang mendatangkan bahaya terbesar, karena berusaha merenggut komunitas tradisional dari hak asasinya sendiri, baik dalam Diaspora maupun Eretz Israel, yang menjadi target cita-cita messianiknya. Zionisme menentang seluruh aspek Yudaisme tradisional: dalam konsep yang diajukannya tentang identitas Yahudi modern dan nasionalis; dalam sikapnya yang merendahkan komunitas Yahudi tradisional dibandingkan dengan gaya hidup baru yang dipromosikannya; dan sikapnya terhadap konsep agama tentang Diaspora dan penyelamatan jiwa. Ancaman Zionis menjangkau setiap aspek dalam masyarakat Yahudi. Ancaman itu tanpa henti dan kian luas. Karenanya, zionisme harus berhadapan dengan oposisi yang tak kenal kompromi”. (Lihat Jurnal al Huda Volume VI, Nomor 16, 2008, Hal. 9-18).

Ia juga mengingatkan kita bahwa, “para Zionis bukan kaum Yahudi pertama yang menduduki Palestina. Kehadiran kaum Yahudi di Tanah Israel terus mengalir sejak dihancurkannya Temple (Kuil). Old Yishuv, juga sejumlah pemukiman Yahudi taat yang terkenal dalam sejarah, sudah ada di Yerusalem dan beberapa kota Palestina yang lain, ketika Zionis pertama tiba lebih dari seratus tahun yang lalu. Faktanya, penduduk lama Palestina, bangsa Arab dan Yahudi, sulit sekali diasosiasikan dengan apa yang disebut “tanah tanpa rakyat” yang didengungkan oleh para Zionis yang mengklaim diri sebagai “rakyat tanpa tanah.” Para Zionis tiba di sebuah wilayah yang selama berabad-abad telah dihuni oleh Muslim, Yahudi dan Kristen yang hidup berdampingan dalam damai. Tapi di mata ideologi Zionisme, Tanah itu kosong. Zionis bukan hanya mengabaikan bangsa Arab, tapi juga nyaris tak peduli pada kaum Yahudi yang taat. Mayoritas Yahudi Sephardic bergabung dengan tata ekonomi masyarakat Arab. Yahudi Ashkenazim yang sama salehnya juga telah menata kehidupan mereka dalam struktur masyarakat yang saling bantu dan penuh toleransi”. (Ibid)

Dan, seperti sama-sama kita tahu, ideologi zionisme ini disusun dengan sasaran jelas, sebagaimana diakui oleh penggagasnya, Theodore Herzl: “membentuk sebuah negara Yahudi”. Hasilnya, dalam jarak rentang waktu 50 tahun sejak Kongres Zionis pertama di Basel, Swiss, tahun 1897, negara Yahudi, yang diberi nama Israel, itu berdiri pada 14 Mei 1948, dengan restu Ingris dan Abdul Aziz dari klan Saud Saudi Arabia yang saat ini keturunannya menjadi penguasa Saudi Arabia. Dalam pandangan kelompok Yahudi (yang sesungguhnya kelompok sekuler itu), istilah Zionisme dinisbahkan kepada sebuah bukit bernama Zion di Jerusalem. Inilah klaim religius yang sengaja mereka gunakan demi mendapatkan legitimasi dari mayoritas penganut Yahudi di dunia, meski seperti yang akan kita lihat, tidak semua orang Yahudi setuju dengan Zionisme. Istilah zionisme itu sendiri kemudian identik dengan Jerusalem.

Penggunaan klaim religius tersebut setidak-tidaknya memang menuai untung dan berguna sebagai retorika politik. Sebab, bagi para penganut dan ras Yahudi, istilah Zion memang mengandung makna religius, dan memiliki akar sejarah yang panjang, juga tentu saja memiliki landasan tekstual dalam kitab suci dan dalam mitos serta catatan-catatan sejarah mereka. Tepat, dalam konteks inilah, seperti terbukti, telah menginformasikan kepada kita betapa lihainya kaum Zionis yang sebenarnya sekular tersebut menggunakan istilah “Zionisme” yang mengandung makna sakral untuk menamai gerakan mereka, sehingga mampu menarik banyak dukungan orang Yahudi di seluruh dunia, utamanya dari orang-orang Yahudi di Eropa dan Amerika, lebih khusus lagi yang memiliki pengalaman buruk dengan dunia modern Eropa di era Perang Dunia Kedua, semisal di Jerman era Hitler.

Ragam Faksi dan Golongan

Akan tetapi, penting untuk diketahui, bahwa respon keagamaan di kalangan Yahudi sendiri terhadap Zionisme dan negara Israel memiliki banyak varian:

Pertama, kelompok penentang keras Zionisme, seperti The Haredim Movement dan Neturei Karta. Kelompok Haredim ini memandang bahwa tanah Israel memang dijanjikan Tuhan untuk mereka, di mana tanah tersebut kemudian dicabut oleh Tuhan dari mereka karena ketidakpercayaan atau pengingkaran orang-orang Yahudi sendiri terhadap perjanjian dengan Tuhan. Di sini, dikatakan misalnya, jika Yahudi menaati Taurat, maka Tuhan akan mengembalikan tanah itu kepada Yahudi. Sedangkan orang-orang Yahudi Neturei Karta memandang bahwa negara Israel adalah produk dari Zionisme tak bertuhan (Godless Zionism) alias orang-orang ateis yang mengklaim diri sebagai penganut dan keturunan Yahudi. Orang-orang Yahudi Neturei Karta adalah kelompok anti-Zionis, orang-orang Yahudi ultra-ortodoks, yang tidak mengakui negara Israel dan secara konsisten menentang negara Yahudi ini. Kelompok ini mendukung perjuangan Palestina dan menyerukan internasionalisasi Kota Jerusalem.

Kedua, kutub dan kelompok keagamaan Yahudi yang berlawanan dengan kelompok Haredim dan Neturei Karta, seperti Gush Emunim. Berbeda dengan Neturei Karta dan Haredim, kelompok ini memberikan biaya kepada para pemukim Yahudi di Tepi Barat, setelah kemenangan Israel dalam perang tahun 1967, yang dikenal sebagai Perang Arab-Israel itu. Mereka juga menyatakan bahwa mereka kembali ke area tertentu untuk mempromosikan kehidupan Yahudi. Nah, menurut mereka, cara ini akan mempercepat kedatangan Sang Messiah, atau yang dalam bahasa Arab disebut sebagai al Masih.

Dan Ketiga, adalah orang-orang Yahudi yang dapat dikatakan sebagai kelompok di antara kedua kutub tersebut, yaitu kelompok-kelompok Yahudi yang memberikan dukungan kepada negara Israel, tetapi tidak melihatnya dari sudut keagamaan. Pendirian negara Israel, menurut mereka, bukanlah tanda-tanda akan datangnya Sang Messiah. Namun, mereka mendukung pemukiman Yahudi dan menentang pengembalian wilayah itu kepada Palestina.

Selanjutnya, di antara orang-orang Yahudi kelompok tengah ini adalah orang-orang Yahudi yang disebut sebagai “Mainstream Religious Zionists”, yang salah satu tokohnya adalah Rabbi Meimon (1875-1962) yang pernah menyatakan bahwa “Negara Ibrani harus didirikan dan dijalankan sesuai prinsip agama Ibrani, yakni Torah Israel. Keyakinan kita sudah jelas: sejauh yang kita, para penduduk, memahaminya, agama dan negara saling membutuhkan satu sama lain” (Lihat Pilkington, Judaism, halaman 249-250).

Kutub kelompok Yahudi lain yang terbilang sangat keras dalam klaim keagamaan, misalnya, diwakili oleh kelompok Kach, bentukan Rabbi Meir Kahane. Inilah kelompok Yahudi garis keras yang sangat terkenal ketika salah seorang aktivisnya, Yigal Amir, membunuh Yitzak Rabin, pada 4 November 1995. Yigal Amir sendiri adalah mahasiswa Universitas Bar Ilan dan aktivis kelompok sayap kanan Eyal, sebuah kelompok garis keras yang mengikuti ajaran Meir Kahane. “Saya bertindak sendiri atas perintah Tuhan, dan saya tidak menyesal,” tandas Yigal Amir, setelah menembak Yitzhak Rabin kala itu. Amir mewakili ekstremis Yahudi, yang menentang penyerahan wilayah Tepi Barat ke Palestina. Sebab, sesuai ajaran Rabbi Meir Kahane, Tepi Barat merupakan inti dari Eretz Israel yang sudah dijanjikan oleh Tuhan dan khusus diperuntukkan bagi bangsa Yahudi. Benarkah demikian? Ternyata tidak semua orang Yahudi sepakat dengan klaim Rabbi Meir Kahane itu.

Negara Rasialis

Kita juga tidak buta ketika pada kenyataannya istilah “Jewish State” memang menunjukkan negara Israel merupakan negara yang rasialis. Karena itulah, di antara cendekiawan Yahudi kemudian banyak yang menentang negara Israel, misalnya saja Dr. Israel Shahak, tak lain karena sifat-sifat agressif dan diskriminatifnya Negara Israel. Dr. Israel Shahak mencatat: “Dalam pandangan saya, Israel sebagai negara Yahudi membawa bahaya tidak saja bagi dirinya sendiri dan bagi warganya, tetapi juga bagi semua bangsa dan negara lain, baik di Timur Tengah maupun di luarnya.”

Dr. Israel Shahak menyebut contoh, bagaimana sampai tahun 1993 Partai Likud menyetujui usul Ariel Sharon agar Israel menentukan perbatasannya berdasarkan Bible. Padahal, bagi Zionis maksimalis, wilayah Israel Raya (Eretz Yizrael) itu meliputi: Palestina, Sinai, Jordan, Suriah, Lebanon, dan sebagian Turki. Shahak juga menguraikan berbagai sikap diskriminatif Israel terhadap warga non-Yahudi (Lihat Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion 1999:2, London, Pluto Press, 1994, halaman 2, 10).

Tak hanya Dr. Israel Shahak, Roger Friedland dan Richard Hect, dalam bukunya, To Rule Jerusalem, menyebutkan bahwa sejak awalnya Yahudi memang tidak pernah sepakat terhadap Zionisme. Para penentang Zionisme ini beralasan bahwa Judaisme adalah agama, dan bukan satu bangsa. Sebagian besar Yahudi religius yang mengunjungi Jerusalem sebelum para Zionis juga memandang bahwa suatu negara sekular dan demokratis bagi Yahudi adalah satu ‘anathema’ atau barang haram. Dengan demikian, motif dan ideologi zionisme memang murni sekular, dengan membajak klaim religius demi mendapatkan legitimasi. (Sulaiman Djaya)

Iklan