Radar Banten, 9 November 2012

Selain mewariskan peninggalan-peninggalan arsitektural, sejarah masuknya Islam di Nusantara syarat dengan warisan kesenian dan kesusastraan yang bernilai tinggi secara intelektual dan estetik. Semisal karya-karya tulis berupa babad, hikayat, dan yang sejenisnya seperti syair dan tembang. Salah-satu contohnya adalah Tembang Pangkur Warawedha karya Sunan Kalijaga, yang hingga kini masih memiliki kekuatan religius dengan sugesti makna puitisnya yang menyiratkan makna yang mendalam. Syair-syair Tembang Pangkur Warawedha itu berbunyi sebagai berikut:

Singgah-singgah kala singgah, pan suminggah kala-durga sumingkir, singa ama singa wulu, sing suku singa sirah, singa tenggak klawan kala singa buntut, pada sira sumingkira, muliha asal-ireki.

Ana kanung saka wetan, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu marang bali kul, jim setan brekasakan, amuliha mring tawang-tuwang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak-balik.

Na kanung kidul sangkannya, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu barang bali kun, jim setan brekasakan, amuliha mring tawang-tuwang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak-balik.

Na kanung kulon sangkannya, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu barang bali kun, jim setan brekasakan, amuliha mring tawang-tuwang prajamu, eblise ywa kari kari karang, kulhu balik bolak-balik.

Ana kanung lor sangkannya, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu barang bali kun, jim setan brekasaan amuliha mring tawang-tuwang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak-balik.

Ambalik maring angganya, balik marang badanira pribadi, balik karsaning Hyang Agung, lelembut samya nginthar, tulak sarap samangkya ganti winuwus, arane sarap den ucap, sagung kama salah kapti.

Arane sarap kang lanang, kulhu putih wadone kulhu kuning, ywa wuruk sudi maring sun, lawan maring ki jabang, sarap wangke sarap wedang sarap awu, sira kabeh suminggaha, mul;iha kamulaneki.

Geger setan wetan samnya, anrus jagad kulon playuning dhemit, ing tengah Bathara Guru, tinuutup Nabi Sleman, daya setan brekasakan ajur luluh, ki jabang bayi wus mulya, liwat siratal mustakim.

Geger setan kidul samya, anrus jagad kulon playuning dhemit, ing tengah Bathara Guru, tinutup Nabi Sleman, eblis setan brekasakan ajur luluh, ki jabang bayi wus mulya, liwat siratal mustakim.

Ajiku Gajah panudya, kebo dhungkul brama rep sirep sami, sarap lelara puniku, asuwung canthung jagad, tuking mata lire mata manik ingsun, panahku sapu buwana, dadekna kusuma adi.

Tibakna mring jalma lupa, eling mengko eling embenireki, rahayu sa’umur ingsun, pratapan sun wus wikan, ingsun ngadeg satengahing samodra gung, palinggihku lintang johar, sasedya ingsun pasthi dadi.

Sun langgeng amuja mantra, pan jaswadi putra ing kodratmanik, jailah hailahu, Muhamad Rasullulah, salallahu ngalaihi wa salamu, wa ngalaekum wa salam, puniku pupuji mami.

Dalam bait yang pertama tembang gubahan Sunan Kalijaga ini, nampak bahwa segala bentuk kala, di mana kala dapat juga diartikan sebagai jerat, rintangan, halangan, atau bebendu hidup oleh karena gangguan dari para parasit, dari yang terbawah hingga pimpinannya yang disebut sebagai kala-durga yang diikat menjadi satu. Kata “kala” dalam bahasa Jawa (termasuk dalam Bahasa Jawa-Banten) secara literal berarti pancing dan jebakan untuk menangkap sesuatu atau makhluk-makhluk hidup yang tengah diburu alias hendak ditangkap. Tapi dalam syair Sunan Kalijaga ini, kata “kala” memiliki arti dan makna sebagai parasit-parasit dengan sebutan singa ama, singa wulu dan lainnya yang bekerja menjerat dan menghalangi langkah hidup manusia. Tujuan mereka adalah membengkokkan manusia yang tidak kuat imannya.

Dalam syair di bait-bait awal itu, seakan diisyaratkan para parasit kala dengan sebutan singa, diminta untuk menyingkir dan tidak menghalangi jalan hidup manusia. Kala atau jerat adalah karakteristik nafsu hewani, di mana dalam hal ini dilihat dari sebutan singa yang melambangkan “raja hutan” yang tidak memiliki etika dan hukum. Sementara, hutan melambangkan kehidupan yang tidak tertata atau tidak memiliki tatanan, situasi dan kehidupan apolitis yang berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan manusia yang seyogyanya menciptakan masyarakat beradab.

Dalam kiasan negatif yang hendak diutarakan Sunan Kalijaga dengan perbendeharaan perumpamaan singa dan hutan, kala dan parasit itu, tergambar segala bentuk kehidupan yang baik dan buruk menjadi satu tanpa ada sebuah aturan yang mengatur tata kehidupan. Kekuatan otot, keganasan dan keberingasan menjadi senjata utama dalam kehidupan ini. Tanpa disadari manusia bisa memiliki nafsu hewani, jika hal tersebut tumbuh berkembang maka manusia telah dikuasai atmosfer negatif. Dalam arti menusia telah jatuh karakternya ke karakter hewani atau menunjukkan sifat-sifat hewani yang mengancam situasi kehidupan dan politik yang memungkinkan terciptanya ke-ada-aban atau cita-cita politis yang masyarakat yang baik dan sehat.

Dalam syair ini Sunan Kalijaga menuturkan kepada para parasit yang bekerja sebagi kala pada kehidupan manusia untuk menyingkir. Menyingkir dari jalan hidup manusia yang memiliki nafsu insani. Mereka diperintahkan kembali ke alamnya dan tidak menjadi parasit pada jiwa manusia. Perintah jelas diucapkan dalam kalimat “muliha asal ireki”. Dalam kalimat tersebut, Sunan Kalijaga menunjukkan kasih pada ciptaan Sang Pencipta yang lain dengan perintah yang baik dan berwibawa. Sunan Kalijaga menyadari bahwa manusia punya wibawa tinggi di hadapan para parasit, sehingga dengan perintah lembut pun mereka akan menyingkir dari kehidupan manusia. Dari syair ini pula manusia diingatkan agar sadar akan kedudukannya sebagai ciptaan tertinggi, sebagai ciptaan yang berwibawa, ciptaan yang memiliki kuasa menyingkirkan nafsu hewani yang bakal tumbuh dalam jiwa.

Kesadaran adalah kunci utama bagi iman manusia, kesadaran akan tanggung jawab manusia menjaga karakternya tetap pada nafsu insani. Agar manusia menjadi baik dan benar di hadapan Sang Pencipta dan ciptaan lainnya (alam). Untuk menjaga hal tersebut, manusia senantiasa menyingkirkan para parasit itu untuk tidak mendekat. Hanya manusia-lah yang harus menyingkirkan dan memerintahkan pada mereka untuk hidup di alam mereka sendiri. Hal ini pada dasarnya adalah ajaran tentang harmoni dan keselarasan antara kita dengan apa yang ada di sekeliling kita.

Rupa-rupanya, Sunan Kalijaga melihat bahwa manusia hendaknya mengendalikan diri ketika muncul karakter singa si raja hutan. Singa dalam kehidupan yang liar di tengah hutan, hanya menggunakan asas manfaat, artinya singa sebagai predator yang menakutkan bagi kehidupan komunitas lemah. Sehingga ketika manusia berada dalam belantara kehidupan, mencapai sebuah tingkat sosial seperti singa, hendaknya tidak menjadi singa yang selalu kelaparan. Keganasan singa terjadi ketika karakter predatornya menjadi dominan.

Dengan kata lain, Sunan Kalijaga sesungguhnya hendak berkata bahwa manusia bukanlah seekor singa dalam arti dan kiasan yang negatif di dalam hutan belantara yang apolitis tersebut, tapi sudah menjadi kehendak Sang Pencipta bahwa manusia mampu menjinakkan singa di dalam dirinya, atau minimal mengelolanya dengan baik, hingga berbuah hal yang positif dari potensi ke-singa-an yang ada dalam diri manusia. Sekalipun di tengah belantara kehidupan ada kehidupan lain yang ganas, manusia mampu mengendalikan dan mengaturnya. Memanage belantara kehidupan, adalah sebuah kepiawaian dan kewajiban manusia sebagai ciptaan tertinggi.

Dalam bait kedua, Sunan Kalijaga mengingatkan kita bahwa hendaknya manusia duduk di atas gajah. Gajah adalah simbol pengetahuan, dilihat dari makna gading gajah itu sendiri. Pengetahuan yang dibentuk berdasarkan “Learning by doing” dalam kehidupan hendaknya menjadi sebuah tunggangan manusia dalam mengarungi belantara kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia diberi alat yang bernama “lati” alias mulut atau bibir. Memang bila bibir itu diberi lipstik dan dilumuri mentega akan nampak cantik dan indah. Namun, meskipun demikian, perlu diketahui bahwa bibir adalah “Gendewa” atau busur. Sedangkan ucapan yang keluar dari nurani adalah “jemparing” atau anak panah. Penggunaan kedua alat ini seyogyanya dijaga betul, dan digunakan tepat pada sasarannya. Apa jadinya, bila manusia tanpa mulut? Dalam dunia pakeliran wayang, apa jadinya bila Dalang tanpa bibir? Apa jadinya bila cerita yang digelar tanpa “Suluk”? Apa jadinya bila pakeliran tanpa “Gunungan”? Apa jadinya bila pakeliran tanpa “Blencong” atau lampu penyorot?

Demikianlah, menurut Sunan Kalijaga, kehidupan manusia tak ubahnya cerita wayang dalam pakeliran. Hal ini, setidak-tidaknya, diungkapkan Sunan Kalijaga dalam bait kedua hingga ke sembilan. Manusia harus mampu berdiri kokoh, di empat penjuru bersih dari kekuatan-kekuatan alam bawah. Peperangan dalam diri manusia dilakukan untuk menyingkirkan dan membersihkan parasit-parasit tersebut. Sebagai sebuah awal dari yang disebut “jiwa yang sehat”, guna menciptakan sebuah “pola pikir yang sehat”. Peperangan manusia dimulai dari roh atau jiwa manusia itu sendiri, yang disebutkan dan dikiaskan sebagai “Ki Jabang Bayi” yang mencari sebuah kemuliaan diri. Peperangan dimulai dari sisi timur yang menggambarkan tempat matahari sebagai sumber cahaya terbit dalam pribadi manusia. Pengetahuan yang baik sebagaimana sebuah gading gajah, menjadi sebuah senjata bagi peperangan dalam pribadi manusia. Kemudian diteruskan pada sisi selatan, barat dan utara.

Peperangan (dalam arti kiasan yang diungkapkan Sunan Kalijaga) dalam jiwa manusia wajib dilakukan guna mencapai sebuah kemuliaan “Ki Jabang Bayi” melewati “siratal mustakim”. Tembang Warawedha merupakan sebuah pengalaman pribadi Kanjeng Sunan Kalijaga untuk mencapai tingkat spiritualitasnya. Kecuali sebagai tembang, rupanya menjadi sebuah anak panah yang dilepaskan dari busur bibirnya. Dan memang pada kenyataannya hingga sekarang masih mampu menembus perisai yang dibuat oleh kekuatan bawah. Ketika manusia mendengarkan tembang ini, para parasit jebol seakar-akarnya. Tembang ini seperti air yang melakukan pencucian jiwa.

Peperangan (dalam arti kiasan dan literal) ini senantiasa dilakukan manusia setiap hari, pada waktu-waktu yang terbaik. Selama kurun waktu yang tidak terlalu lama tersebut seyogyanya digunakan oleh manusia, guna mencetak pribadinya menjadi “leader yang baik dan benar”.

Sebagai akhir tulisan, perlulah dikatakan bahwa, dalam tembang yang digubah Sunan Kalijaga ini ada nuansa dan wawasan yang baik dari spirit dan nilai-nilai pra-Islam (semisal Hindu) yang baik dan relevan alias koheren dengan ajaran dan nilai kebaikan dalam Islam, diharmoniskan, digabungkan, dan dikomparasikan menjadi sebuah wawasan yang toleran namun sarat kearifan dan kesalehan yang dikenal dan diajarkan dalam lanskap dan wawasan spiritual-keagamaan Islam itu sendiri. Hingga tak ragu lagi, Sunan Kalijaga pada dasarnya adalah seorang pujangga. (Sulaiman Djaya)

Iklan